New Policy: Kebangkitan Petani & Produsen Kopi Perempuan: Cerita dari Banjarnegara

Kebangkitan Petani & Produsen Kopi Perempuan: Cerita dari Banjarnegara

Dunia kopi sering dianggap sebagai bidang yang dominan dihiasi oleh laki-laki—dari petani, produsen hingga pengambil keputusan. Namun, di balik proses pemanenan dan pengepakan biji kopi yang diwarnai oleh gerakan laki-laki, perempuan berperan aktif dalam setiap tahap kegiatan. Terutama di wilayah pedesaan penghasil kopi, mereka menjadi motor utama pengelolaan tanaman, pengolahan, dan distribusi, meski kontribusi mereka jarang diperingati.

Menurut riset tahun 2018 oleh Pangestu dan Magdalene, konsumsi kopi masih lebih sering dikaitkan dengan pria. Kebiasaan ini mencerminkan struktur industri yang cenderung maskulin, di mana tugas berat seperti persiapan lahan, pengendalian harga, serta transaksi umumnya dijaga oleh laki-laki. Sementara itu, perempuan lebih banyak terlibat dalam aktivitas produktif sehari-hari, seperti penanaman, pemetikan, dan pemrosesan kopi. Data menunjukkan di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, 80% kebun kopi melibatkan perempuan sebagai aktor utama. Sayangnya, akses mereka terhadap keputusan dan sumber daya masih terbatas, seperti yang diungkapkan Ilmi, Purbowo, dan Sukma dalam penelitian 2023.

Petani Perempuan dan Tantangan Pascapanen

Kelompok perempuan petani kopi di Banjarnegara, Lady Farmer Coffee, membuktikan bahwa peran perempuan bisa menjadi tulang punggung industri ini. Didirikan pada 2015 oleh Farida Dwi Ermawati (Wiwik), kelompok ini mengubah kisah perempuan yang awalnya hanya menjadi buruh pemetik kopi dengan upah Rp1.000/kg ceri menjadi produsen mandiri. Mereka belajar sendiri teknik pengolahan kopi dari tahap bahan baku hingga produk jadi, seperti green bean dan bubuk kemasan.

Perempuan di Banjarnegara tidak hanya menanam, tetapi juga menerapkan praktik ekologis seperti pupuk organik tanpa pestisida. Selain itu, mereka memasang panel surya untuk mengeringkan biji kopi, mengurangi ketergantungan pada cuaca. Kelompok ini kini terdiri dari 20-40 anggota, dengan fokus pada kualitas, pemasaran, dan kolaborasi untuk bersaing di pasar.

“Tanaman kopi itu seperti tubuh seorang ibu yang sedang mengandung. Biji kopi adalah ‘janin’ yang butuh perawatan ekstra,” ujar Wiwik, pendiri Lady Farmer Coffee.

Pada awal pengelolaan, Wiwik memiliki 2.000 pohon kopi yang dirawat secara serius. Tahun 2019 menjadi titik balik, di mana perempuan petani mulai menguasai teknik budidaya yang lebih baik. Teknik ini memperbaiki hasil panen, seperti penggunaan pupuk kandang alih-alih pupuk pabrikan. Meski demikian, tahun 2021 memberi tantangan berat karena cuaca tidak dapat diprediksi, dengan hujan terus mengguyur sepanjang tahun.

Wiwik menekankan pentingnya perbaikan produktivitas sejak tahap awal. Ia mengkritik metode pemetikan biji kopi yang sering dilakukan sebelum matang sempurna, serta kurangnya perhatian pada nutrisi tanaman. Dengan penerapan praktik terbaik, kelompok ini berhasil menciptakan kopi arabika berkualitas, mengisi rumah mereka hingga penuh. Mereka pun menyambut tantangan berikutnya dengan optimis.

Perempuan petani kopi tidak hanya menghasilkan biji yang baik, tetapi juga mendorong perubahan struktur industri. Perannya yang kerap dianggap sebagai penunjang semakin terlihat jelas, baik melalui inovasi maupun kolaborasi. Dengan kekuatan bersama, mereka membuka jalan baru bagi kebangkitan ekonomi lokal dan keterlibatan lebih besar dalam sektor kopi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *