Solving Problems: Tantangan Meningkatkan Inklusi Sistem Ekonomi Syariah
Tantangan Meningkatkan Inklusi Sistem Ekonomi Syariah
Situasi Geopolitik yang Memengaruhi Perekonomian Global
Dalam beberapa pekan terakhir, dunia tengah dihadapkan pada serangkaian peristiwa yang menggambarkan kecenderungan suram dalam perekonomian global di masa depan. Konflik Rusia dan Ukraina yang belum berakhir di Eropa, serta dampak dari perang Gaza antara Hamas dan Israel yang berlangsung hampir dua tahun, memberikan tekanan ekonomi. Kini, konflik baru di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan proksinya serta Amerika Serikat serta Israel memperburuk ketidakpastian geopolitik. Dampaknya, konflik di Libanon menyebabkan kematian tiga prajurit TNI yang bertugas di UNIFIL, dengan serangan dari pihak Israel. Hal ini memperkuat gambaran bahwa stabilitas ekonomi global sedang terancam.
Konsep Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Perekonomian
Situasi ekonomi yang semakin berubah ini menuntut pencarian model yang lebih baik. Salah satu alternatif yang dianggap relevan adalah sistem ekonomi Islam, atau yang sering disebut ekonomi syariah. Sistem ini menawarkan prinsip-prinsip paripurna, termasuk larangan praktik riba—yaitu pemungutan bunga yang dianggap merusak. Menurut ajaran Islam, riba menyebabkan ketidakadilan dalam hubungan ekonomi, serta bisa memicu inflasi. Dalam konteks ini, konsep ekonomi syariah menjadi solusi yang diharapkan untuk menciptakan keadilan dalam perekonomian.
“Riba merupakan praktek yang jauh dari keadilan serta akan memberikan dampak terjadinya kerusakan dalam hubungan antara manusia dengan manusia serta juga menjadi faktor yang memberikan dampak terjadinya inflasi.”
Kendala dalam Penerapan Sistem Ekonomi Syariah di Indonesia
Sejauh ini, penerapan ekonomi syariah di Indonesia masih tergolong lambat. Meski produk keuangan berbasis syariah telah berkembang signifikan, tingkat inklusi sistem ini di masyarakat belum mencapai level yang optimal. Dikatakan bahwa literasi keuangan syariah mencapai 40 persen, namun inklusi nyata dalam sistem ekonomi syariah hanya sekitar 12 hingga 13 persen. Ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami atau memanfaatkan konsep tersebut secara efektif.
Situasi ini memperlihatkan tantangan dalam membumikan ekonomi syariah sebagai model utama. Meski telah ada kebijakan dan produk yang mendukung, keberadaan sistem ini belum sepenuhnya merespons dinamika perekonomian yang terus berubah. Peningkatan inklusi diperlukan untuk memastikan bahwa masyarakat tidak hanya mengetahui tentang konsep ini, tetapi juga dapat mengakses manfaatnya secara luas.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Inklusi
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret. Salah satu cara adalah memanfaatkan masjid sebagai pusat pembelajaran ekonomi syariah. Masjid merupakan tempat berkumpul umat Islam, baik untuk salat berjamaah maupun mendengarkan pengajian. Dengan menjadi ruang edukasi, masjid bisa berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap prinsip keadilan ekonomi.
Di samping itu, penerapan sistem ini juga perlu ditingkatkan di kalangan milenial dan generasi muda hijrah. Karena mereka merupakan pelaku ekonomi yang sangat potensial, langkah ini bisa mempercepat adopsi ekonomi syariah di berbagai daerah. Dengan membangun kemitraan antara lembaga keuangan, komunitas, dan pendidikan, inklusi sistem ekonomi syariah dapat ditingkatkan secara bertahap.