Special Plan: Posisi Pangan dalam Peperangan Global
Peran Pangan dalam Konflik Global
Ketersediaan pangan dianggap sebagai fondasi penting bagi kestabilan global sekaligus sumber energi. Fluktuasi harga dan distribusi pangan sering menjadi penyebab ketegangan politik. Dalam sejarah, kegagalan Sultan Agung dalam perang melawan VOC terjadi karena penyergapan cadangan pangan oleh pihak berkuasa. Kini, pangan bisa berubah menjadi alat tekanan bagi negara-negara yang mengontrol pasokan bahan makanan.
Krisis Modern dan Dampak Perang
Contoh terbaru bisa dilihat dari krisis di Venezuela tahun 2016, di mana inflasi mencapai 65.000% hingga negara tersebut hampir runtuh. Kenaikan harga sepuluh butir telur sampai 650 juta rupiah per koper jadi bukti bahwa ekonomi negara bisa terguncang oleh kenaikan harga bahan pokok.
Jepang juga merasakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM sebesar 20%. Faktor ini membuat negara melepaskan cadangan minyak yang biasanya dipertahankan. Perang antara Iran dan Amerika Serikat memperparah tekanan terhadap pasokan bahan baku pupuk nitrogen dan fosfat, yang 30% perjalanan distribusinya melewati Selat Hormuz.
Status Pangan Dunia Saat Ini
Produksi beras global mencapai sekitar 525 juta ton, dengan 90% berasal dari Asia. Namun, keluhan terhadap distribusi pangan masih terjadi, menyebabkan kenaikan harga dan konsentrasi pasokan di negara produsen. Perang Rusia-Ukraina menyebabkan 13 juta penduduk dunia terancam kelaparan.
Menurut data FAO tahun 2022, sekitar 183 juta warga Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi dengan standar 69.000 per hari. Evaluasi dari PBB menunjukkan bahwa sepuluh tahun terakhir kondisi pangan global masih kurang ideal. Program MDGs dan SDGs yang bertujuan mengurangi kelaparan 1 miliar orang gagal, sementara produksi pertanian dunia mengalami kontraksi sejak perang Rusia-Ukraina.
Ketersediaan Pangan di Indonesia
Di Indonesia, sebanyak tujuh bahan pangan utama harus diimpor, seperti gandum 11 juta ton per tahun, kedelai 2,5 juta ton, gula 3,1 juta ton, dan garam 550 ribu ton. Sementara itu, produksi telur dan daging ayam surplus hingga 300 ribu ton per tahun. Walaupun ada guncangan, Indonesia masih bisa menjaga kestabilan makanan pokok karena kemampuan produksi dalam negeri.
Kenaikan harga enam jenis pangan strategis dalam lima tahun terakhir mencapai rata-rata 32%. Beras naik 28,3%, kedelai 64,45%, daging sapi 16,3%, daging ayam 26,2%, gula konsumsi 27,5%, serta minyak goreng 34,6%. Angka ini melebihi kemampuan daya beli rakyat kecil, memicu risiko krisis pangan.
Kelaparan di Indonesia lebih bersifat tersembunyi, berupa kekurangan mikronutrien yang menyebabkan stunting pada anak usia emas. Sebanyak 19,8% penduduk mengalami stunting, dengan jumlah terbesar di Jawa Barat (638.000), Jawa Tengah (485.893), Jawa Timur (430.780), Sumatera Utara (316.456), NTT (214.143), dan Banten (209.600). Tercatat 1,7 juta balita menderita akibat ketidakseimbangan pangan, terjadi bahkan di daerah subur yang memiliki produksi bahan makanan terbesar.
Keberanian Produksi Lokal
Kenaikan harga pangan global akibat perang Iran-AS menunjukkan bahwa Indonesia perlu memperkuat produksi lokal. Dengan tiga faktor utama: pertama, memastikan ketersediaan bahan pangan hasil produksi dalam negeri; kedua, membangun sistem distribusi yang efektif; ketiga, meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat terhadap kenaikan harga. Pemimpin bangsa harus berani mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisi pangan Indonesia di tingkat global.