Main Agenda: Cerita Prabowo jadi korban AI, fasih bahasa Arab hingga jago menyanyi
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menceritakan dirinya menjadi korban teknologi kecerdasan buatan (AI), yang dapat memanipulasi suara dan penampilan seolah-olah dirinya mampu berbicara dalam berbagai bahasa seperti Arab hingga bernyanyi dengan baik. "AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara. Saya sering loh," kata Prabowo saat memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
Prabowo menemukan konten di platform berbagi video yang menampilkan dirinya bernyanyi dengan suara yang bagus, meskipun dirinya mengaku tidak memiliki kemampuan tersebut. "Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi ada di YouTube saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget.
Saya saja kaget," tutur Presiden. Selain itu, Prabowo juga mendapati konten yang menggambarkan dirinya berpidato dalam bahasa Mandarin dan bahasa Arab, yang dibuat menggunakan teknologi serupa. Presiden mengungkapkan bahwa fenomena tersebut sempat dianggap menguntungkan dalam konteks tertentu, sehingga tidak selalu langsung ditanggapi.
"Ada lagi, saya berpidato dalam bahasa Mandarin, ya kan. Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya diam juga.
Kalau Menguntungkan kita diam," kata Prabowo seraya tertawa. Dia menilai bahwa perkembangan teknologi seperti AI perlu menjadi perhatian karena dapat digunakan untuk memproduksi konten yang tidak sesuai dengan kenyataan. Presiden Prabowo menyebutkan bahwa penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial berpotensi merusak suatu negara, terutama dengan dukungan perkembangan teknologi digital.
"Dulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks," katanya. Presiden menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, AI, dan sistem informatika digital juga memungkinkan seseorang memiliki banyak akun dalam jumlah besar.
Dengan dukungan perangkat yang relatif tidak terlalu mahal, akun-akun tersebut dapat diperbanyak, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah berasal dari banyak pihak. Dia mengungkapkan kondisi tersebut dapat menciptakan efek gema atau echo chamber yang mampu memperbesar suatu isu hingga terlihat masif, meskipun pada awalnya hanya berasal dari kelompok kecil. "Jadi yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1000 orang, mungkin 5000 orang bisa bikin heboh.
Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain," kata Prabowo.