New Policy: Media-humas harus beradaptasi hadapi tantangan era disrupsi
Media-humas harus beradaptasi hadapi tantangan era disrupsi
Semarang, Rabu – Benny Siga Butarbutar, Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, memperingatkan bahwa sektor media dan hubungan masyarakat (humas) perlu mampu beradaptasi dengan dinamika perubahan media yang terus-menerus. Ia menyoroti pentingnya kemampuan untuk menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan teknologi informasi yang pesat.
Tantangan Jurnalisme di Era Disrupsi
Menurut Benny, tantangan utama jurnalisme di tengah perubahan media adalah munculnya media “homeless” yang bebas merajalela, kata dia. Media ini berupa akun platform sosial seperti Instagram, TikTok, X, dan WhatsApp, yang menyebarkan berita dengan kecepatan tinggi tanpa situs web mandiri.
“Media ‘homeless’ ini fokus pada konten lokal atau viral, sifatnya efisien dan fleksibel, serta cenderung tidak mematuhi standar etika pers,” ujarnya.
Pertahanan Media Mainstream
Sebagai Sekretaris Umum BPP Perhumas, Benny menekankan pentingnya kolaborasi antara negara, organisasi profesi jurnalistik, dan media mainstream untuk mempertahankan kredibilitas jurnalisme. Ia menegaskan bahwa tidak cukup hanya intensifikasi pemberitaan, tetapi kapasitas, kualitas, dan keakuratan liputan juga harus ditingkatkan.
“Dengan menetapkan standar konsistensi dan keandalan tersebut di tingkat pusat maupun daerah, media mainstream dapat merebut kembali kekuatannya,” ujarnya.
Kemampuan Media dan Humas
Benny menyoroti bahwa media mainstream harus terus memperkuat kompetensinya melalui pelatihan, peningkatan kapasitas, pemasangan infrastruktur, serta kerja sama dalam bidang jurnalisme investigatif dan jurnalisme berpikir kritis. Sementara itu, ia menambahkan bahwa humas juga perlu lebih proaktif dalam menyusun strategi komunikasi, termasuk kemampuan merespons cepat, menyampaikan fakta secara proporsional, dan membangun kepercayaan publik.
Peran ANTARA dalam Ekosistem Informasi
Pada kesempatan tersebut, Benny menyoroti peran ANTARA sebagai bagian dari ekosistem informasi negara, yaitu sebagai pemeriksa fakta melalui laporan yang komprehensif, melakukan investigasi dan analisis, membandingkan isu, hingga menyebarkan kebijakan pemerintah ke tingkat daerah.
“Penyampaian berita yang lebih mendalam dan memiliki perbandingan informasi menunjukkan peran ANTARA sebagai sumber acuan utama,” ujarnya.
Dalam era globalisasi yang menciptakan kompleksitas dan ketidakpastian, Benny menegaskan bahwa humas harus jauh lebih aktif dalam membangun strategi, relasi, dan kolaborasi. Ia menyebut bahwa tidak ada satu rumus komunikasi pun yang siap, kecuali rumus yang terus diperbarui dan diuji melalui praktek nyata.