Visit Agenda: Prajurit gugur dan sebuah pertanyaan tentang damai

Prajurit Gugur dan Sebuah Pertanyaan tentang Damai

Jakarta – Banyak warga Indonesia tidak mengenal secara jelas Adchit al-Qusayr atau Bani Hayyan dalam peta dunia. Nama-nama itu terdengar jauh, hampir tak dikenal. Seperti titik kecil yang seolah tidak memiliki kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari di Jakarta, Makassar, atau Padang. Namun, pada akhir Maret 2026, jarak itu tiba-tiba hilang. Dari wilayah kecil di Lebanon Selatan datang berita duka: tiga prajurit TNI kehilangan nyawa dalam misi perdamaian PBB.

Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon tewas akibat tembakan artileri tak langsung. Dua hari kemudian, konvoi logistik dihancurkan oleh ledakan, mengambil nyawa Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar serta Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Di layar televisi, peristiwa itu tampil sebagai laporan internasional dengan kronologi singkat, pernyataan resmi, dan ucapan belasungkawa. Dalam alur informasi yang cepat, tragedi sering kali hadir sebagai fakta yang segera terlupakan, digantikan berita lain.

Kehilangan yang Tidak Pernah Berakhir

Kematian manusia, meski terlihat simpel dalam berita, selalu membawa dua cerita. Cerita publik bergerak cepat, sementara cerita personal perlahan muncul ketika layar televisi dimatikan dan suasana rumah sunyi. Mungkin di balik kehilangan itu, ada anak yang masih menunggu suara langkah ayahnya di depan pintu. Atau pasangan yang berusaha berbicara hanya dengan kenangan.

Di titik itulah “perdamaian dunia” berhenti sebagai konsep abstrak. Ia turun dari ruang geopolitik dan hadir sebagai pengalaman manusia yang nyata. Pengalaman yang ditinggalkan oleh orang-orang terdekat.

Misinya di Wilayah Antara

Pasukan perdamaian PBB bertugas di wilayah antara, menjaga garis tipis yang memisahkan stabilitas dari kekacauan. Mereka berpatroli di desa-desa tegang, memantau gencatan senjata yang rapuh, serta berusaha menjaga warga sipil dari rasa takut. Keberadaan Kontingen Garuda di Lebanon Selatan, dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), menggambarkan komitmen Indonesia untuk ikut menjaga kemanusiaan dalam pertikaian.

Ketika bendera Merah Putih berkibar di tanah konflik, kebanggaan kolektif muncul. Ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton, tetapi bagian dari upaya membangun dunia yang lebih damai. Namun, kebanggaan itu selalu berjalan beriringan dengan risiko. Setiap prajurit yang berangkat membawa harapan sederhana: pulang.

Harapan yang tampak biasa, tetapi justru paling mendasar. Tidak ada keluarga yang benar-benar siap menerima kenyataan bahwa tugas menjaga perdamaian bisa berakhir dengan kepulangan yang berbeda. Ketika jenazah kembali, konsep besar geopolitik menyusut menjadi kesepian ruang keluarga.

Pertanyaan yang Tetap Terbuka

Kita bisa membayangkan damai sebagai keadaan tenang, dunia tanpa senjata dan takut. Namun, bagi penjaga perdamaian, seperti tiga prajurit yang gugur, damai justru datang di tempat yang belum stabil. Mereka mengorbankan diri untuk memastikan dunia tetap berjalan. Di tengah ketidakpastian, perdamaian menyerupai upaya terus-menerus yang diperbaiki hari demi hari.

Pertanyaan tentang damai menjadi sangat personal: apakah nilai perdamaian tetap berarti ketika ia meminta pengorbanan sebesar itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *