Topics Covered: Satgas PRR Percepat Renovasi Fasilitas Pendidikan Terdampak Bencana
Satgas PRR Percepat Renovasi Fasilitas Pendidikan Terdampak Bencana
Kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tahun lalu menyebabkan sejumlah fasilitas pendidikan mengalami gangguan. Satgas PRR Pascabencana Sumatra mencatat, total ada 4.922 unit sekolah yang terkena dampak. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah terbesar, yaitu 3.120 unit, sementara Sumatra Utara tercatat 1.149 unit, dan Sumatra Barat sebanyak 653 unit.
Distribusi Kerusakan Fasilitas Pendidikan
Kerusakan tersebut terjadi di tiga provinsi yang dilanda bencana. Meski keterbatasan masih ada, proses belajar-mengajar di ketiga daerah kini telah pulih sepenuhnya. Satgas PRR menyebutkan, sekitar 3.046 unit fasilitas pendidikan di Aceh kembali beroperasi. Di Sumatra Utara, 1.133 unit sekolah pun sudah berjalan normal, sedangkan di Sumatra Barat terdapat 640 unit yang kembali digunakan.
Upaya Pemulihan Ruang Kelas
Untuk mempercepat pemulihan, Satgas PRR terus bekerja memperbaiki ruang kelas. Tito Karnavian, ketua Satgas, menyatakan bahwa prioritas diberikan pada fasilitas yang mengalami kerusakan parah. “Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti aktif mengupayakan perbaikan. Saat ini, lebih dari 1.000 fasilitas sudah menandatangani kesepakatan kerja sama, tetapi penyelesaian dilakukan secara bertahap,” tutur Tito di Jakarta, Rabu (25/3).
“Mendikdasmen menyampaikan lebih dari 1.000 fasilitas pendidikan sudah perjanjian kerja sama untuk melakukan perbaikan. Tapi, beliau menggunakan skala prioritas, mana yang (rusak) berat dikerjakan dahulu,”
Semangat Belajar Siswa
Siswa di wilayah terdampak tetap semangat dalam belajar meski kondisi fisik sekolah belum sempurna. Nuraiche, siswa kelas 12 SMA Negeri 2 Meureudu, Pidie Jaya, mengungkapkan bahwa keinginan untuk menghadapi Ujian Kelas Akhir (UKA) pada 13 April mendatang menjadi motivasi utama. “Kami tetap belajar seperti biasa, karena juga mau ujian,” katanya, Senin (30/3).
“Kami tetap belajar seperti biasa, karena juga mau ujian,”
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Hasanah menambahkan bahwa persiapan ujian tetap berlangsung meski dalam situasi darurat. Sekolah menyediakan kisi-kisi soal dan intensifkan pembahasan materi dengan bantuan wali kelas serta program belajar tambahan. “Kami sudah mengadakan bimbingan belajar agar persiapan siswa lebih maksimal,” tambah Hasanah.
Kondisi yang serba terbatas tak menyurutkan semangat para siswa. Tekad mereka untuk lulus menjadi penggerak utama dalam berjuang menjaga kelangsungan pendidikan, meski saat ini belajar masih berlangsung di tenda, ruang darurat, atau menumpang di sekolah lain.