Upaya Satgas PRR Normalisasi Puluhan Sungai & Muara Terdampak Bencana

Upaya Satgas PRR Normalisasi Puluhan Sungai & Muara Terdampak Bencana

Kemajuan yang nyata dicatatkan oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra dalam proses penormalisasi sungai serta muara yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Sampai 5 April, sebanyak 38 dari 79 sungai nasional yang terdampak di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) telah selesai diperbaiki oleh pemerintah pusat, atau 48 persen dari total. Sementara itu, pemerintah daerah berhasil menyelesaikan 16 dari 43 sungai regional yang terkena dampak, mencapai 37 persen.

Distribusi progres berbeda antar provinsi. Di Aceh, pusat menyelesaikan 13 dari 24 sungai nasional, sementara daerah mengatasi 2 dari 7 sungai lokal. Pada Sumut, 4 dari 23 sungai nasional telah dinormalisasi, dan daerah menangani 10 dari 25 sungai daerah. Sumbar menjadi wilayah dengan progres tertinggi, di mana 21 dari 32 sungai nasional terdampak telah selesai, dan 4 dari 11 muara lokal juga ditangani oleh pemda.

Dalam hal muara, penormalisasiannya telah menunjukkan perbaikan, meski masih butuh upaya lebih lanjut. Dari 38 muara yang terdampak, 10 di antaranya telah selesai, atau 26 persen. Sisanya, 28 muara, masih dalam proses. Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan bahwa sedimentasi menjadi penyebab utama pendangkalan sungai, yang memerlukan intervensi segera.

“Sedimentasi memengaruhi sebagian besar sungai wilayah terdampak, sehingga perlu ditangani cepat. Kondisi kerusakan bervariasi, mulai dari pendangkalan berat hingga perubahan alur. Proses ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, karena estimasi paling cepat membutuhkan dua hingga tiga tahun,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, Kamis (9/4).

Tito menekankan pentingnya kecepatan dalam penanganan, karena jika sedimentasi dibiarkan terlalu lama, sungai dan muara yang tersumbat bisa memperparah banjir di sekitarnya. Ia juga menyebutkan bahwa muara memerlukan perhatian khusus, karena ukurannya cukup luas. Contohnya, di Aceh Tamiang, Presiden (Prabowo Subianto) langsung menugaskan Menteri Pertahanan (Syafrie Sjamsoeddin) serta Wakil Panglima TNI (Jenderal Tandyo Budi Revit) untuk mengatasi masalah tersebut.

Dalam pernyataannya, Tito menegaskan komitmen Satgas untuk terus mendorong percepatan. “Proses ini membutuhkan waktu, tetapi kami yakin bisa selesai dalam jangka waktu yang ditargetkan. Luasnya area yang diperbaiki, seperti 4 km yang dibersihkan, menunjukkan intensitas kerja yang signifikan,” pungkas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *