Data Membuktikan Ekspor Jam Tangan RI Kian Menciut – Ada Apa?
Data Membuktikan Ekspor Jam Tangan RI Kian Menciut, Ada Apa?
Ekspor jam tangan Indonesia di awal tahun 2026 terpantau mengalami penurunan. Data dari Satu Data Kemendag mencatatkan nilai ekspor untuk HS 9101—jam tangan dengan casing logam mulia—dalam dua bulan pertama tahun ini hanya mencapai US$0,1019 juta. Pemimpin utama destinasi ekspor adalah Jepang dengan kontribusi US$0,0479 juta, disusul Singapura US$0,0271 juta dan Malaysia US$0,0105 juta. Pasar lain seperti Irak, Thailand, hingga Jerman mengisi volume yang relatif kecil.
Ketidakmerataan distribusi ekspor terlihat jelas. Peta pergerakan ini menunjukkan konsentrasi permintaan di sejumlah negara, dengan volume yang tidak signifikan dari pasar besar lainnya. Jika dilihat dari periode lebih panjang, total ekspor HS 9101 pada Januari-Desember 2025 mencapai US$0,5348 juta. Singapura menjadi pendorong utama, dengan andil hampir 70% dari nilai total, sementara Malaysia, Timor Leste, dan Jepang mengikuti dengan kontribusi lebih rendah.
Pola pelemahan juga terjadi di berbagai kategori produk. Contohnya, jam tangan mekanik otomatis (HS 91012100) sempat naik ke US$1,07 juta pada 2024, lalu turun drastis menjadi US$106 ribu pada 2025. Kategori HS 91022100 juga mengalami penurunan dari US$482 ribu menjadi hanya US$16 ribu dalam setahun. Bahkan sektor elektronik seperti HS 91021900 menurun dari US$470 ribu ke US$107 ribu.
Pola ini mengisyaratkan dua kemungkinan. Pertama, permintaan global untuk jam tangan konvensional melemah karena pergeseran ke perangkat wearable berbasis teknologi. Kedua, peran Indonesia dalam rantai pasok global masih bersifat pelengkap, bukan pemain utama. Ketika permintaan turun, negara ini menjadi yang pertama terkena dampak.
Berdasarkan data historis, ekspor HS 9101 terus mengalami pelemahan. Dari US$28,88 juta pada 2022, totalnya menurun menjadi US$23,17 juta pada 2025. Meski terdapat fluktuasi, tren keseluruhan menunjukkan penurunan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terbatas pada segmen premium, melainkan menyentuh seluruh industri jam tangan.
Kondisi pasar global tampak semakin kompetitif. Kebutuhan konsumen bergeser ke produk inovatif, sementara daya saing Indonesia terasa kurang kuat. Penurunan ekspor menunjukkan bahwa negara ini masih bergantung pada pasar regional, dengan risiko penurunan volume yang tidak terkompensasi oleh peluang di luar kawasan.