Facing Challenges: Zaman Edan: Belum Lama Harga Minyak Masih Minus, Sekarang US$100
Zaman Edan: Kini Harga Minyak Melesat ke US$100, Tahun Lalu Masih Negatif
Dalam situasi yang berubah drastis, pasar energi global mengalami pergerakan ekstrem. Sebagai contoh, pada 2026, gangguan pasokan menjadi faktor utama yang memengaruhi harga minyak. Konflik di wilayah Timur Tengah menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz, tempat yang sebelumnya menyuplai sekitar 20 juta barel per hari. Arus produksi turun tajam, sementara jalur alternatif terbatas. Negara-negara Teluk memangkas produksi hingga lebih dari 10 juta barel per hari. Dengan data dari IEA, pasokan global menurun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Gangguan ini disusul penutupan lebih dari 3 juta barel per hari kapasitas kilang akibat serangan dan hambatan ekspor. Anggota IEA pun melepas 400 juta barel dari cadangan darurat untuk menjaga stabilitas pasokan. Harga langsung melonjak, dengan Brent sempat mendekati US$120 per barel sebelum kembali ke kisaran US$92, naik sekitar US$20 dalam sebulan.
Perubahan Permintaan yang Membalikkan Tren
Di sisi permintaan, hambatan distribusi dan penurunan konsumsi LPG menghambat penggunaan sekitar 1 juta barel per hari. Meski demikian, tekanan dari sisi pasokan tetap dominan. Tahun 2020 berisi surplus produksi dengan permintaan yang tiba-tiba turun. Tahun 2026 sebaliknya diwarnai krisis distribusi dan produksi yang melambatkan aliran energi. Perubahan harga terjadi tanpa jeda lama, menunjukkan sensitivitas minyak sebagai komoditas global.
Kisah Harga Negatif di 2020
Pada 20 April 2020, harga minyak mentah standar AS, West Texas Intermediate (WTI), mencapai zona negatif hingga -US$37 per barel. Kejadian ini terjadi sebulan setelah penyataan pandemi global akibat virus corona. Aktivitas ekonomi berhenti, perjalanan dibatasi, dan konsumsi energi tumbuh tajam. Biaya penyimpanan justru melampaui nilai minyak, membuat produsen bersedia membayar pihak lain untuk mengambil minyak. Mekanisme kontrak berjangka mempercepat tekanan, karena kontrak Mei 2020 memaksa pemegangnya menerima pengiriman fisik. Volume kontrak bulan itu lebih kecil dibandingkan kontrak berikutnya, sehingga tekanan jual menjadi lebih kuat.
Melansir dari Matthew Johnston, optimisme terhadap distribusi vaksin ikut memperkuat pemulihan tersebut.
Pada masa itu, harga Brent juga turun hingga US$9,12 per barel di April 2020, jauh dari kisaran US$70 di awal tahun. Penyebab utamanya adalah kelebihan pasokan dan permintaan global yang runtuh. Meski produksi tetap berjalan, tangki penyimpanan penuh, produsen tidak memiliki ruang untuk menampung tambahan. Konflik produksi antara Arab Saudi dan Rusia pada Maret 2020 memperparah situasi, hingga OPEC dan mitranya akhirnya sepakat mengurangi pasokan sebesar 9,7 juta barel per hari mulai Mei 2020. Meski demikian, harga minyak tetap tertekan hingga paruh pertama tahun tersebut. Pertengahan 2020 menjadi titik balik, di mana pelonggaran pembatasan aktivitas memicu kenaikan konsumsi. Harga Brent naik ke US$40 per barel pada Juni, sementara WTI mencapai sekitar US$48 per barel.
Konteks Global: Kebalikannya Pasokan Tersendat, Harga Meledak
Perubahan ekstrem ini mencerminkan ketergantungan minyak pada kondisi makroekonomi dan politik internasional. Ketika konsumsi berhenti, harga bisa anjlok hingga tidak bernilai. Namun, saat distribusi terganggu, harga langsung melonjak. Dalam 2026, konflik geopolitik dan penurunan produksi memicu kenaikan harga, sementara 2020 dihiasi oleh surplus pasokan dan penurunan permintaan yang tajam. Kedua situasi membuktikan betapa rentan pasar energi terhadap faktor-faktor eksternal.