Kepada Pemilik Emas Berpestalah – Harga Diramal Tembus US$5000 Lagi

Kepada Pemilik Emas Berpestalah, Harga Diramal Tembus US$5000 Lagi

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dan perak kembali mengalami kenaikan. Peningkatan ini dipengaruhi oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan penguatan aset risiko lainnya. Menurut Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (1/4/2026) ditutup di US$4757,29 per troy ons, naik 1,88%. Kenaikan ini memperpanjang tren peningkatan emas selama empat hari beruntun, dengan kenaikan total mencapai 8,6%. Harga penutupan hari ini menjadi tertinggi sejak 18 Maret 2026, atau dalam dua minggu terakhir.

Harga emas masih mengalami penguatan pada hari ini. Pada Kamis (2/4/2026) pukul 06.21 WIB, harga emas berada di level US$4796,83 per troy ons, naik 0,83%. Pergerakan harga emas didukung oleh pelemahan dolar AS, yang turun untuk kedua kalinya berturut-turut. Faktor ini membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Akankah Harga Emas Melesat di US$5000?

“Jika ada de-eskalasi konflik, harga emas bisa kembali mencapai di atas US$5.000 per ons,” kata Bob Haberkorn, analis dari RJO Futures, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa ekspektasi pemangkasan suku bunga mungkin muncul kembali.

“Harga emas bisa kembali naik di atas US$5.000 per ons jika kita menuju de-eskalasi, karena ekspektasi pemangkasan suku bunga bisa muncul kembali,”

Di masa lalu, harga emas sempat menyentuh level US$5000 pada Januari 2026, sebelum turun karena perang. Haberkorn menyoroti fokus pasar terhadap Iran dan Selat Hormuz, serta perkembangan konflik tersebut.

“Fokus saat ini ada di Iran dan Selat Hormuz, serta bagaimana konflik ini berkembang dan arah ke depannya,”

Presiden AS Donald Trump menyebut dalam unggahannya di Truth Social bahwa presiden Iran meminta gencatan senjata. Namun, juru bicara kementerian luar negeri Iran menyangkal klaim tersebut, mengatakan tidak benar.

Pengaruh Konflik dan Suku Bunga Terhadap Emas

Harga perak juga mengalami kenaikan signifikan. Menurut Refinitiv, pada perdagangan Rabu (1/4/2026), perak ditutup di US$75,12 per troy ons, naik 0,02%. Kenaikan ini melanjutkan tren empat hari penguatan, dengan kenaikan total 10,4%. Pada Kamis (2/4/2026) pukul 06.30 WIB, harga perak mencapai US$75,66 per troy ons, naik 0,72%.

Analisis dari IG, Tony Sycam, mengatakan bahwa konflik bisa menjadi “pedang bermata dua” bagi emas. Di satu sisi, perdamaian yang bertahan akan mengurangi permintaan aset aman geopolitik yang selama ini mendukung harga. Di sisi lain, harga minyak yang rendah dan tekanan inflasi mungkin memicu harapan pemangkasan suku bunga The Fed di 2026, yang bisa mendorong kembali nilai emas.

“Akhirnya konflik bisa menjadi pedang bermata dua (bagi emas). Di satu sisi, perdamaian yang bertahan lama akan menghilangkan permintaan safe haven berbasis geopolitik yang selama ini menopang harga,”

Sementara itu, harga emas spot turun lebih dari 11% pada bulan Maret 2026. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan harga energi akibat perang, yang memicu kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Emas biasanya dianggap sebagai pelindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik dan inflasi, tetapi suku bunga tinggi mengurangi daya tariknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *