Key Discussion: Konflik Timur Tengah Memecah NATO, Trump Murka ke Eropa
Konflik Timur Tengah Memecah NATO, Trump Murka ke Eropa
Perang di Timur Tengah kini tidak hanya memengaruhi wilayah tersebut, tetapi juga mengguncang kepercayaan dalam aliansi militer global, NATO. Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran dianggap sebagai penyebab utama memburuknya hubungan antara Washington dengan sekutu Eropa. Presiden Donald Trump menunjukkan frustrasi yang meningkat terhadap negara-negara di benua tersebut, karena dianggap tidak mendukung operasi AS untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“Sekutu Eropa adalah pengecut,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pada 20 Maret 2026, seperti dikutip The Economist. Ia menegaskan akan mengingat sikap negara-negara tersebut.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan pertimbangan serius untuk keluar dari NATO, meski ancaman itu tidak diulangi dalam pidatonya pada 1 April 2026. Perubahan sikap Trump diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio, yang kini menyebut NATO sebagai hubungan satu arah. Dalam wawancara, Rubio menilai perlu ada tinjauan ulang setelah konflik selesai.
Kehadiran Rubio sebagai figur penting dalam pemerintahan Trump menunjukkan kemungkinan penurunan dukungan terhadap aliansi. Ia dikenal sebagai pendukung kuat hubungan trans-Atlantik, tetapi kini terlihat berpaling dari pendirian sebelumnya. Menurut Ivo Daalder, mantan Duta Besar AS untuk NATO, ini adalah momen terburuk dalam sejarah aliansi tersebut.
Daalder menambahkan bahwa para sekutu Eropa kini harus fokus memperkuat kapasitas militer sendiri, bukan hanya berusaha meyakinkan Trump agar tetap bertahan di NATO. Penolakan Eropa terhadap peningkatan belanja pertahanan juga dikatakan melemahkan posisi pro-NATO di AS.
Eropa Tak Kompak Dukung AS
Dari sekutu Eropa, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dinilai paling konfrontatif. Meski memenuhi target lama belanja pertahanan NATO sebesar 2% dari PDB, Spanyol menolak target baru 3,5% ditambah 1,5% untuk infrastruktur militer. Negara tersebut juga menutup pangkalan dan wilayah udaranya bagi pasukan AS yang menyerang Iran.
Prancis mengambil sikap lebih hati-hati, dengan jet tempurnya membantu Uni Emirat Arab menembak jatuh drone. Negara ini juga mengirim kapal induk untuk mendukung keamanan Siprus. Namun, Trump tetap mengkritik Prancis karena menolak izin melintasnya pesawat militer AS di wilayahnya.
Inggris awalnya menolak penggunaan pangkalan untuk operasi AS, tetapi kemudian memberi izin hanya untuk melindungi negara-negara tetangga dari serangan Iran. Perdana Menteri Keir Starmer terus menegaskan bahwa ini bukan perang Inggris.
Italia, yang tertinggal dalam belanja pertahanan, sempat melarang sebagian pesawat AS menggunakan pangkalan di Sisilia. Kurt Volker, mantan Duta Besar AS untuk NATO, menyebut langkah Eropa ini bodoh, meski bisa dipahami. Menurutnya, reaksi mereka bersifat emosional, bukan rasional.
Ancaman Trump ke NATO Makin Serius
Konflik Iran memperparah ketegangan antara Trump dan NATO. Sejak masa jabatannya pertama, Trump sudah beberapa kali menyentuh wacana keluar dari aliansi. Namun tahun lalu, ia menempatkan diri sebagai penyelamat NATO setelah berhasil meyakinkan sekutu menaikkan belanja pertahanan hingga 5% dari PDB.
Sekarang, hubungan kembali memburuk saat Trump mendekati Rusia dan menghidupkan kembali kampanyenya untuk merebut Greenland, wilayah otonom Denmark. Dengan situasi saat ini, ancaman keluarnya dari NATO semakin nyata.