Key Strategy: Diplomasi Trump ke Iran Dikritik: Mahal, Lemah, dan Tak Bisa Dipercaya

Diplomasi Trump ke Iran Dikritik: Mahal, Lemah, dan Tak Bisa Dipercaya

Kritik Terhadap Pendekatan Trump

Di Jakarta, upaya Presiden AS Donald Trump untuk memengaruhi Iran dikritik sebagai strategi yang dianggap kurang efektif, berbiaya tinggi, dan semakin rentan. Seorang ahli mengatakan bahwa kelemahan terbesar dalam negosiasi adalah terlihat terlalu ingin mencapai kesepakatan. Hal ini membuat lawan berkesempatan menangkap kelemahan pihaknya.

Dalam buku The Art of the Deal, yang dikutip The Economist, Trump sendiri pernah menasihati bahwa kelemahan terbesar dalam sebuah negosiasi adalah terlihat terlalu ingin mencapai kesepakatan.

Setelah Iran mengunci Selat Hormuz dan mengganggu perekonomian global, Trump menunjukkan beberapa tanda antusiasme berlebihan untuk mencapai kesepakatan. Harga minyak mengalami kenaikan tajam, pasar saham terpuruk, serta perang Teluk dalam strategi Trump mengalami penolakan di dalam negeri.

Peluncuran Ancaman dan Keterlambatan

Pada 28 Maret lalu, masyarakat AS marah dan turun ke jalan di ribuan kota. Mereka menentang gaya kepemimpinan Trump yang dianggap seperti raja, serta kenaikan harga bensin yang terus berlangsung. Untuk menenangkan pasar, Trump pada 30 Maret mengklaim telah mencapai “kemajuan besar” dalam perundingan dengan rezim baru Iran.

Sikap ancaman yang dilontarkan Trump bukanlah hal baru. Dulu, ia beberapa kali menyatakan ancaman keras pada Sabtu lalu, saat pasar sedang tutup, lalu menarik kembali sebelum pasar dibuka. Dalam konteks ini, Trump juga memperpanjang tenggat waktu Iran dari 48 jam menjadi satu minggu, lalu lebih dari dua minggu.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebutkan bahwa para pemimpin Iran “mungkin memutuskan ingin membuat sistem tol di Selat.”

Kebijakan yang Menghabiskan Dana

Dalam buku The Art of the Deal, Trump juga menulis bahwa mengendalikan biaya penting untuk mewujudkan mimpi besar. Namun, sebagai pemimpin tertinggi, Trump terlihat mengabaikan nasihat ini. Perang Teluk yang dimulai beberapa minggu lalu kini sudah memakan biaya langsung US$25 miliar, dengan Pentagon meminta tambahan US$200 miliar.

Biaya tidak langsungnya kemungkinan lebih besar. OECD memperkirakan konflik ini bisa mengurangi 0,5% GDP global tahun depan dan meningkatkan inflasi sebesar 0,9 poin persentase. Selain itu, perang ini bisa memperburuk kelaparan global karena mengganggu pasokan pupuk.

Reaksi Publik dan Tantangan Masa Depan

Kritik terhadap kebijakan Iran semakin menjadi isu yang terkait langsung dengan kondisi keuangan masyarakat. Colin Dueck dari American Enterprise Institute menilai bahwa Iran kini bukan lagi sekadar masalah kebijakan luar negeri, tetapi menjadi pertanyaan tentang isi dompet warga.

Survei YouGov, yang dilansir The Economist, menunjukkan tingkat persetujuan Trump turun menjadi minus 18% pada 23 Maret 2026. Strategi “Ayatollbooth” yang dikembangkan Iran, terinspirasi dari kata ayatollah dan gerbang tol, dinilai melanggar norma global tentang kebebasan navigasi dan bisa diadopsi oleh negara lain dalam konflik serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *