Key Strategy: Punya Beban Utang Dolar, Deretan Emiten RI Ini Siap-Siap Goyang
Beban Utang Dolar Mengancam Emiten Indonesia, Ini Daftar Perusahaan yang Terpengaruh
Rupiah terus mengalami tekanan di tengah penurunan nilai terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hingga pukul 10.33 WIB pada Senin (13/4/2026), mata uang lokal berada di Rp17.120/US$, turun 0,2% dari posisi sebelumnya. Ini merupakan nilai terendah sepanjang masa setelah penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) yang mencatatkan pelemahan tipis 0,03% ke Rp17.085/US$.
Fluktuasi rupiah yang terus melemah berdampak signifikan pada perusahaan yang memiliki utang dalam asing, terutama yang berbisnis impor. Biaya operasional mereka meningkat akibat selisih kurs, sehingga mendorong risiko keuangan yang lebih besar.
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
Perusahaan makanan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi salah satu emiten yang paling terpukul. Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir 2025, total kewajiban valuta asing ICBP tercatat mencapai Rp48,60 triliun dengan kurs Rp17.110 per Dolar AS. Komponen utama berasal dari Obligasi Global senilai US$2,75 miliar, yang setara Rp47,05 triliun.
Selain itu, kewajiban dalam dolar AS lainnya mencakup utang usaha sebesar US$46,41 juta (Rp794,07 miliar) dan liabilitas mata uang lainnya seperti Riyal Arab Saudi, Lira Turki, serta Yen Jepang, dengan total kumulatif Rp754,70 miliar. Perusahaan ini belum menerapkan kebijakan lindung nilai (hedging) formal untuk mengurangi risiko perubahan kurs.
Indofood Sukses Makmur Tbk
Induk perusahaan ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), juga menghadapi tekanan serupa. Hingga 31 Desember 2025, total kewajiban asing INDF mencapai Rp56,66 triliun, terutama dari utang jangka panjang seperti obligasi global dan pinjaman bank sebesar US$2,84 miliar (Rp48,52 triliun).
Kewajiban dalam dolar AS tambahan termasuk pinjaman jangka pendek sebesar US$384,93 juta (Rp6,58 triliun) serta kewajiban operasional lainnya senilai US$55,04 juta (Rp941,73 miliar). Untuk aset non-USD, nilai total liabilitas sekitar Rp620 miliar.
Modernland Realty Tbk
PT Modernland Realty Tbk (MDLN) mengalami eksposur signifikan terhadap fluktuasi rupiah. Total kewajiban valuta asing perusahaan mencapai Rp5,28 triliun per 31 Desember 2025. Mayoritas dari jumlah ini berasal dari utang obligasi senilai US$274,51 juta (Rp4.696,87 miliar), yang akan jatuh tempo di April 2027.
Kewajiban lain mencakup pinjaman sindikasi US$31,30 juta (Rp535,54 miliar) dan beban akrual US$3,05 juta (Rp52,19 miliar). MDLN aktif menggunakan kontrak forward serta memantau kondisi ekonomi global untuk mengurangi risiko.
XLSmart Telecom Sejahtera Tbk
Di sektor telekomunikasi, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) tercatat memiliki total kewajiban asing Rp1,15 triliun per akhir 2025. Komponen utama adalah utang usaha kepada pemasok sebesar US$67,12 juta (Rp1,15 triliun) dan beban akrual US$0,22 juta (Rp3,76 miliar).
Perusahaan tidak lagi mencatat utang jangka panjang atau obligasi dalam mata uang asing, dengan eksposur risiko utama berasal dari kewajiban pembayaran untuk investasi modal.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, serta outflow keuangan dalam negeri menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. Perusahaan yang mengandalkan impor atau memiliki aset dalam dolar AS terutama rentan terhadap dampak negatif dari perubahan kurs.