Latest Program: Dolar Tembus Rp17.000/US$, Kinerja Rupiah Masih Berdarah-darah

Dolar Tembus Rp17.000/US$, Kinerja Rupiah Masih Berdarah-darah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan tajam selama pekan ini, bahkan mencapai level Rp17.000 per 1 dolar. Perubahan ini terjadi meski sebagian besar mata uang Asia mengalami penguatan. Menurut data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), rupiah berada di posisi US$16.990 per 1 dolar AS, turun 0,09% dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, mata uang Garuda juga mengalami pelemahan sebesar 0,18%.

Rupiah Ambruk Apa Sebabnya?

Rupiah mencapai level Rp17.000/1US$ pada perdagangan intraday Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026). Kepala Ekonom David Sumual menyebutkan, tekanan terhadap rupiah utamanya dipengaruhi faktor eksternal, yakni kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran di kalangan investor. Namun, ia mengakui bahwa masalah internal juga berkontribusi, khususnya karena dampak harga minyak terhadap APBN menimbulkan sentimen negatif. Akibatnya, terjadi tekanan jual signifikan di pasar Surat Utang Negara (SUN).

“Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN,” ujar Sumual kepada CNBC Indonesia, Sabtu (4/4/2026).

Meski sentimen perang Timur Tengah mulai mereda, rupiah tetap terbebani oleh faktor negatif dalam negeri. Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank, Faisal Rachman, menambahkan bahwa keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bensin nonsubsidi menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang kondisi fiskal Indonesia ke depan. Selain itu, peningkatan sentimen global membuat Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak segera melakukan intervensi di pasar valuta asing seperti sebelumnya.

Di triwulan kedua, pembayaran imbal hasil aset keuangan Indonesia kepada pemegang asing cenderung meningkat secara musiman. “Dan keempat, ada antisipasi terhadap rilis data inflasi serta neraca perdagangan Indonesia hari ini,” kata Rachman, Sabtu (4/4/2026).

Pergerakan Dolar Indeks

Dolar Indeks terus menguat akibat pelemahan mata uang Asia lainnya, termasuk ringgit Malaysia dan baht Thailand. Ringgit Malaysia mengalami penurunan 0,4% menjadi 4,04/1US$, sementara baht Thailand jatuh 0,17% ke level 1.509,8/1US$. Rupee India justru menjadi mata uang Asia yang menguat, naik 2,2% karena Bank Sentral India (RBI) mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan arbitrase dan spekulasi yang menekan nilai tukar INR.

“RBI tampaknya cukup serius untuk menindaklanjuti peraturan baru dalam mengendalikan pelemahan INR. Perubahan kebijakan lebih lanjut oleh RBI dan pemerintah India untuk mengelola pelemahan INR kemungkinan akan terjadi,” tutur Michael Wan, analis mata uang senior di MUFG, dikutip dari Reuters, Sabtu (4/4/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *