Latest Program: Gencatan Senjata Perang Iran: Deretan Saham Ini Ikut Bernapas Lega
Gencatan Senjata Perang Iran: Deretan Saham Ini Ikut Bernapas Lega
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan hari ini dengan kenaikan signifikan, mencapai 3,39% dan berada di level 7.207,16. Kenaikan ini didorong oleh situasi geopolitik yang lebih stabil dan harapan pencapaian kesepakatan damai global. Kondisi tersebut memberi kepastian bagi pelaku pasar, meningkatkan arus modal, dan memengaruhi perubahan dinamika sektor-sektor utama dalam pasar modal.
Bank Mandiri (BMRI)
Stabilitas politik kembali menumbuhkan selera risiko, mendorong keputusan ekspansi bisnis dan konsumsi oleh masyarakat. Bank-bank besar seperti BMRI, yang memiliki likuiditas memadai, berada dalam posisi unggul untuk merespons kebutuhan kredit yang meningkat. Hasil tahun 2025 menunjukkan BMRI mencatat pendapatan sebesar Rp 164,4 triliun dengan laba bersih Rp 56,29 triliun. Margin keuntungan perseroan mencapai 34,2%, sementara valuasi sahamnya terlihat rasional dengan PER 8,29 kali dan PBV 1,43 kali.
Unilever Indonesia (UNVR)
Penurunan harga minyak mentah global menjadi peluang bagi sektor FMCG. UNVR, sebagai produsen barang konsumsi skala besar, mengandalkan bahan baku plastik yang terkait langsung dengan harga minyak. Kondisi ini mengurangi beban pokok penjualan, memungkinkan perusahaan menjaga harga produk di tingkat ritel tanpa merugikan pangsa pasar. Dari pendapatan Rp 31,9 triliun, UNVR berhasil menghasilkan laba bersih Rp 7,64 triliun. Tingkat ROE mencapai 170,75%, yang mendukung PBV premium di 19,52 kali pada harga Rp 1.935.
Alamtri Minerals (ADMR)
Kembalinya negara-negara Asia ke pasar batu bara memberikan penopang utama bagi pergerakan harga komoditas. ADMR, yang fokus pada batu bara metalurgi, tetap menunjukkan kinerja fundamental yang kuat. Meski ada penyesuaian harga tahunan, perusahaan mampu mempertahankan pendapatan Rp 16,3 triliun dan laba bersih Rp 4,55 triliun. Struktur keuangan yang sehat, ditunjukkan oleh DER sebesar 0,68 kali, memungkinkan penanaman modal tanpa beban bunga berlebihan. Margin keuntungan 27,9% menunjukkan efisiensi operasional yang baik.
Archi Indonesia (ARCI)
Prospek emiten logam mulia seperti ARCI bergantung pada pelemahan dolar AS. Pergerakan harga emas tercatat volatil, dengan fluktuasi antara US$ 5.400, US$ 4.100, dan US$ 4.800. Meski terjadi koreksi, harga emas yang relatif tinggi masih memberikan aliran kas operasional yang stabil. Dengan bunga global tidak naik tajam, emas tetap menjadi aset yang diminati sebagai pelindung nilai, mendorong kinerja ARCI. Lonjakan laba bersih menjadi Rp 1,7 triliun dicatatkan selama tahun 2025, didukung pendapatan yang mengalami peningkatan.
Empat perusahaan tersebut menjadi contoh bagaimana ketenangan geopolitik dan faktor ekonomi global memengaruhi valuasi dan kinerja saham. Perubahan dinamika ini menciptakan peluang bagi investor untuk menyesuaikan strategi di tengah lingkungan pasar yang lebih optimis.