Main Agenda: Perang Iran Masih Panas, RI Kena Imbas Lewat 3 Guncangan Ini

Perang Iran-US Memicu Dampak Global, Indonesia Terkena Tiga Aspek Ini

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 masih menciptakan ketidakpastian global. Meski keduanya sedang menjalani gencatan senjata dua minggu, kekhawatiran belum berkurang. Pada akhir pekan lalu, pertemuan antara perwakilan AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan, memperparah ketidakpastian pasar keuangan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dalam pembukaan Central Bank Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026), mengungkapkan bahwa perang ini memberi dampak yang luas, melibatkan berbagai sektor dan pasar.

Dampak pada Jalur Finansial

Destry menjelaskan, konflik Timur Tengah berdampak langsung pada keuangan, meski Iran dan Israel bukan pusat keuangan utama. Namun, karena AS menjadi pihak terlibat, efek tidak langsungnya signifikan. Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, membuat investor lebih memilih aset aman.

“Terjadi risk off artinya investor menjauhi risiko sehingga ada safe haven activity. Mau tidak mau flow ke advanced economies, termasuk ke AS. DXY mengalami peningkatan. Flow ke emerging market tidak hanya ke RI, tapi juga berkurang,”

kata Destry.

Berdasarkan data Refinitiv, indeks dolar AS (DXY) menguat sekitar 3% hingga 99, setelah mencapai level 100 pada saat tertentu. Kenaikan yield surat utang AS yang berada di 4,5%-4,6% juga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dampak finansial ini terlihat dari pengetatan kondisi global, penguatan dolar AS, dan aliran modal yang menurun ke pasar berkembang.

Guncangan pada Harga Komoditas

Salah satu dampak utama adalah kenaikan harga komoditas, khususnya energi. Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi kritis, menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak global. Ketidakstabilan di kawasan ini langsung memengaruhi harga minyak. Pasar menilai risiko semakin serius setelah negosiasi damai di Islamabad gagal dan AS memutuskan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran.

Kebuntuan ini memicu kenaikan harga minyak, tetapi efeknya juga meluas ke komoditas lain seperti emas, batu bara, aluminium, CPO, dan pertanian. Batu bara misalnya, mengalami tekanan karena pasar mulai mencari alternatif energi.

“Indirect impact cukup bagus ke RI karena ada coal, CPO, emas. Dampaknya ada dua sisi, harga minyak naik, tapi komoditas ekspor juga meningkat,”

ujar Destry.

Bagi Indonesia, situasi ini membawa konsekuensi dua arah. Di satu sisi, kenaikan harga minyak bisa membebani perekonomian. Di sisi lain, komoditas ekspor seperti batu bara dan CPO mungkin mengalami peningkatan nilai, menjadi peluang bagi sektor pertanian dan energi.

Ketidakpastian pada Perdagangan & Produksi

Konflik Timur Tengah juga mengganggu jalur perdagangan dan produksi global. Meski Iran bukan pemain utama dalam perekonomian dunia, posisinya sebagai penghasil dan pengirim energi membuat perubahan iklim dalam pasokan global berdampak besar. Destry menyebutkan, gangguan di daerah tersebut memicu ketidaknyamanan dalam rantai pasok, memengaruhi volume ekspor dan produksi negara-negara lain.

Indonesia, sebagai negara dengan ketergantungan pada pasokan energi dan ekspor komoditas, terkena imbas. Kenaikan harga minyak meningkatkan biaya produksi, sementara gangguan logistik bisa mengurangi kapasitas ekspor. Dampak ini memperlihatkan bagaimana perang antara AS dan Iran terus memengaruhi ekonomi global, termasuk pasar dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *