Meeting Results: Indonesia Masuk dalam Daftar Negara Paling Sopan di Dunia
Indonesia Masuk dalam Daftar Negara Paling Sopan di Dunia
Hasil Survei Remitly: Budaya dan Interaksi Menentukan Persepsi Kesopanan
Survei global yang dilakukan oleh Remitly menunjukkan bahwa beberapa negara dinilai paling sopan berdasarkan pengalaman publik internasional. Dalam riset ini, lebih dari 4.600 peserta dari 26 negara menilai sikap ramah dan polosan dalam berbagai konteks sosial. Temuan menegaskan bahwa kesopanan tidak hanya dipengaruhi oleh norma budaya, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari dan interaksi langsung.
Jepang memimpin daftar dengan skor signifikan sebesar 13,35%. Budaya ini dikenal dengan sikap menghormati orang lain, penggunaan bahasa formal seperti hormat (honorifics), dan kebiasaan membungkuk sebagai simbol kesopanan. Di sisi lain, Kanada dan Inggris menempati posisi lainnya karena kebiasaan mengucapkan “please” dan “thank you” yang menjadi ciri khas budaya mereka. Kebiasaan antre yang teratur juga memperkuat persepsi positif tentang polosan di kedua negara tersebut.
Dalam peringkat sepuluh besar, China dan Filipina juga masuk. Di Tiongkok, nilai kesopanan terbentuk dari pengaruh filosofi Konfusianisme, yang menekankan harmoni sosial dan penghormatan hierarki. Sementara itu, Filipina menawarkan pendekatan budaya yang berbeda, tetapi tetap memperlihatkan kelembutan dalam interaksi. Survei ini membuktikan bahwa budaya lembut seperti kesopanan bisa membentuk persepsi global sebuah negara secara nyata.
Menariknya, meskipun Indonesia tercantum dalam daftar survei, nama negara tersebut tidak muncul dalam peringkat utama. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara penilaian subjektif dan pengakuan objektif. Meski demikian, Indonesia tetap memiliki potensi untuk menduduki posisi yang layak berdasarkan nilai budaya dan sikap masyarakatnya.
Survei ini menjadi bukti bahwa kesopanan tidak hanya tentang perilaku individu, tetapi juga mencerminkan karakter budaya suatu negara. Jepang dianggap sebagai standar global dalam hal ini, sementara negara Barat dan Asia lainnya memperlihatkan variasi dalam menciptakan citra yang positif.