Meeting Results: Modal IHSG-Rupiah Biar Kuat Lagi: BBM Tak Naik, WFH – Kebijakan Energi

Modal IHSG-Rupiah Biar Kuat Lagi: BBM Tak Naik, WFH – Kebijakan Energi

Pasar keuangan Indonesia tampil lesu pada perdagangan Selasa (31/3/2026), dengan IHSG, rupiah, dan instrumen obligasi mengalami tekanan. Namun, pasar diperkirakan akan bergerak lebih stabil hari ini, Rabu (1/4/2026). Perkembangan berikutnya diprediksi dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, inflasi, neraca dagang, serta indikator PMI manufaktur.

Pergerakan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada hari Selasa, terkoreksi 0,61% atau turun 43,45 poin ke level 7.048,22. Sebanyak 270 saham menguat, 435 melemah, dan 253 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp14,94 triliun, melibatkan 25,73 miliar lembar saham dalam 1,72 juta transaksi.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp1,28 triliun. Volatilitas IHSG pada perdagangan kemarin cukup tinggi, dengan indeks sempat membuka sesi di zona hijau lalu berbalik melemah hingga akhir hari.

Nilai Tukar Rupiah

Rupiah pada Selasa ditutup melemah terhadap dolar AS, bergerak di posisi Rp16.990/US$ atau turun tipis 0,03%. Meski tetap berada di bawah Rp17.000, posisi ini menjadi level tertinggi penurunan rupiah dalam sejarah.

Mata uang Garuda mengalami pergerakan kisaran Rp16.980-Rp16.998/US$. Pelemahan tersebut terdampak oleh tekanan eksternal, terutama konflik antara AS-Israel dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak global. Pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset aman, seperti dolar AS.

Faktor Eksternal dan DXY

Indeks dolar AS (DXY) mencatat penguatan signifikan sepanjang Maret, dengan apresiasi hingga 2,9% bulan ini. Kenaikan ini menunjukkan keinginan kuat pasar untuk menempatkan dolar sebagai pelindung nilai meski ada kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.

“Bank sentral AS masih mengambil pendekatan wait and see, dengan ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga,” ujar Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Pernyataan ini sempat menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek, tetapi belum cukup untuk mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven.

Pada perdagangan kemarin, imbal hasil obligasi RI dengan tenor 10 tahun naik 0,53% menjadi 6,884%. Peningkatan ini mencerminkan pemicu investor membuang surat berharga negara (SBN) dalam kondisi pasar yang tidak pasti.

Di sisi lain, bursa Wall Street akhirnya bangkit pada Selasa atau Rabu dini hari, dengan saham naik setelah laporan terbaru memberi harapan bahwa konflik Iran bisa segera berakhir. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1.125,37 poin atau 2,49% ke level 46.341.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *