Minyak Melonjak 11% – Harga Nyata di Lapangan Tembus US$141/Barel
Minyak Melonjak 11%, Harga Nyata di Lapangan Tembus US$141/Barel
Jakarta, harga minyak mentah global kembali naik tajam setelah sempat turun. Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak brent pada perdagangan Kamis (2/4/2026) ditutup di US$109,28 per barel, kenaikan sebesar 8,03% dibandingkan hari sebelumnya. Lonjakan ini berlawanan dengan Rabu lalu, ketika harga minyak brent terjatuh 14,5%. Selama perdagangan intraday, harga brent sempat mencapai US$109,74 per barel.
Harga penutupan Kamis mencatat rekor tertinggi sejak Juni 2022, hampir empat tahun lalu. Menurut S&P Global, harga spot minyak brent bahkan sempat menyentuh US$141,36 per barel. Angka ini menunjukkan permintaan tinggi terhadap minyak yang akan dikirim dalam 10 hingga 30 hari ke depan. Pasar spot mencerminkan ketegangan pasokan fisik yang meluas akibat penguncian Selat Hormuz oleh Iran.
“Pasar finansial hampir menutupi kenyataan pasokan yang sebenarnya terlihat di lapangan,” komentar Amrita Sen, pendiri Energy Aspects. Ia menambahkan, harga diesel di Eropa saat ini mencapai hampir US$200 per barel.
Sementara itu, harga minyak WTI tercatat US$111,54 per barel pada Kamis, kenaikan 11,41% dibandingkan hari sebelumnya. Harga ini sempat menyentuh US$114 pada perdagangan intraday, memutus tren penurunan dua hari berturut-turut sebelumnya. Sen mengingatkan bahwa kontrak berjangka menawarkan kesan aman meskipun situasi di lapangan justru terasa kritis.
“Ada dampak fisik nyata dari penguncian Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem energi, tetapi kurva harga berjangka minyak belum sepenuhnya mencerminkannya,” kata Mike Wirth, CEO Chevron, dalam konferensi CERAWeek di Houston. Ia mengatakan AS dan Iran masih terus beradu argumen, memengaruhi volatilitas harga.
Harga minyak melonjak pada Kamis lantaran investor khawatir perang antara AS dan Iran akan mengganggu arus kapal tanker selama beberapa minggu. Pidato Trump pada Rabu malam menyebut potensi agresi militer terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, menurunkan harapan de-eskalasi dan mendorong kenaikan harga. Namun, kenaikan harga sempat terhenti setelah laporan dari IRNA menyatakan Iran dan Oman sedang merancang protokol “pemantauan transit” di jalur laut tersebut.
Trump menyalahkan kenaikan harga minyak pada rezim Iran yang diduga melakukan serangan teror terhadap kapal tanker dan negara tetangga. Ia menyatakan AS akan menyerang Iran dengan keras dalam waktu dekat, meski masih bersedia berdialog. Iran membantah klaim tersebut, menegaskan Selat Hormuz tetap dalam kontrol militer mereka. Kedua pihak terus berselisih mengenai status negosiasi damai.
Aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hampir berhenti sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai 28 Februari 2026, memicu krisis energi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Giles Alston dari Oxford Analytica, negara-negara yang bergantung pada jalur ini kini harus mengatur sendiri distribusi minyak, karena AS tampak tidak lagi menjadi pengambil kebijakan utama. George Efstathopoulos dari Fidelity International menambahkan, pasar sebelumnya memprediksi dua kemungkinan: penurunan eskalasi atau de-eskalasi konflik.