New Policy: Gencatan Senjata Rapuh, Emas Masih Unjuk Gigi

Gencatan Senjata Rapuh, Emas Masih Unjuk Gigi

Jakarta, harga emas dunia mengalami kenaikan di tengah pekan ini, dipengaruhi oleh pelemahan nilai dolar AS dan sikap investor yang masih memantau ketahanan perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran. Refinitiv mencatat, pada perdagangan terakhir pekan, Jumat (10/4/2026), harga emas ditutup di angka US$ 4.747,49 per troy ons, dengan penurunan 0,34%. Namun, dalam seminggu terakhir, harga logam mulia ini naik 1,54% secara point-to-point.

Ketidakstabilan dolar AS menjadi faktor utama yang mendukung kenaikan emas, karena membuat emas batangan lebih terjangkau bagi pembeli dari negara lain. Hari ini, indeks dolar (DXY) turun 0,12% ke level 98,69, sementara dalam seminggu, indeks ini mengalami koreksi 0,53%. Meski demikian, ketidakpastian terus menghiasi pasar, terutama terkait kondisi gencatan senjata yang rentan.

“Pelemahan dolar AS membantu emas bangkit, tetapi pasar tetap cemas karena pelaku mencoba memahami implikasi dari gencatan senjata yang terancam,” jelas Bob Haberkorn, analis pasar senior di RJO Futures, seperti dilansir Reuters, Sabtu (11/4/2026).

Menurut Haberkorn, berita gencatan senjata membawa harapan positif untuk emas, namun kenaikan harga telah melambat setelah kemunculan tanda-tanda ketidakstabilan. Di sisi lain, Israel terus menyerang target di Lebanon, yang dalam pandangan Teheran seharusnya tercakup dalam perjanjian gencatan senjata. Sementara itu, tidak ada tanda bahwa Iran telah menghentikan blokade Selat Hormuz.

Kegagalan negosiasi dan kembalinya konflik berisiko meningkatkan biaya energi serta inflasi, sehingga memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini berpotensi mengurangi daya tarik emas, meskipun logam mulia ini biasanya dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap kenaikan harga.

“Jika The Fed menghindari kenaikan suku bunga, emas mungkin pulih, sementara penyelesaian konflik juga akan mendorong fokus kembali ke penurunan nilai mata uang fiat,” kata analis Morgan Stanley.

Morgan Stanley memproyeksikan bahwa harga emas akan tetap stabil hingga kuartal kedua 2026 sebelum kembali naik di semester kedua tahun ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *