New Policy: Ramalan Lembaga Top Amerika: Harga Emas Siap Menggila, Kapan Mulainya?

Ramalan Lembaga Amerika: Emas Masih Berpotensi Naik, Kapan Mulainya?

Jakarta, harga emas mengalami kenaikan di atas 1% akibat melemahnya dolar AS. Para investor memperhatikan keberlanjutan gencatan senjata antara Washington dan Teheran yang masih rentan, sekaligus mengawasi data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS. Refinitiv mencatat bahwa harga emas ditutup di posisi US$4763,62 per troy ons pada hari Kamis (9/4/2026), naik 1% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga emas terus menunjukkan tren positif, naik 2,5% dalam tiga hari terakhir. Namun, di hari Jumat (10/4/2026) pukul 06.25 WIB, emas turun ke US$4758,96 atau melemah 0,1%. Pelemahan dolar AS ke level 98,83, terendah sejak 3 Maret 2026, membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Analisis Lembaga Pemeringkat

“Pelemahan dolar AS telah mendukung kenaikan harga emas, tetapi pasar masih cenderung hati-hati karena pelaku mencoba memahami dampak dari gencatan senjata yang belum stabil,” jelas Bob Haberkorn, analis senior di RJO Futures, kepada Reuters.

Dia menambahkan, berita tentang gencatan senjata bersifat positif bagi emas, tetapi kenaikan harga telah terhenti seiring munculnya petunjuk adanya ketegangan yang belum terselesaikan.

Morgan Stanley memproyeksikan bahwa emas akan stabil hingga kuartal kedua sebelum kembali menguat di paruh kedua tahun ini. “Jika The Fed bisa menghindari kenaikan suku bunga, emas mungkin bergerak naik. Selain itu, penyelesaian konflik juga akan memperkuat perspektif pelemahan nilai mata uang fiat,” ujar lembaga investasi ternama itu.

Data CPI dan Perak

Sementara itu, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS naik 2,8% dalam 12 bulan hingga Februari, sesuai dengan perkiraan. Data CPI bulan Maret akan dirilis pada hari Jumat, yang dinanti-nantikan pasar.

Dikutip dari Refinitiv, harga perak ditutup di US$75,07 per troy ons pada Kamis (9/4/2026), mengalami kenaikan 1,3%. Perak terus menguat, mencatatkan kenaikan 3,13% dalam tiga hari terakhir. Di Jumat (10/4/2026) pukul 06.34 WIB, perak berada di level US$75,19 atau naik 0,15%.

Ketegangan terus berlangsung, dengan Israel kembali menyerang target di Lebanon, yang menurut Teheran seharusnya termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata. Tidak ada tanda-tanda bahwa Iran mencabut blokade Selat Hormuz. Kegagalan negosiasi dan kemungkinan kembali memanasnya konflik bisa memperburuk inflasi, memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *