New Policy: Review Sepekan: Harga Minyak Dunia & Batu Bara Kompak Turun!
Review Sepekan: Harga Minyak Dunia & Batu Bara Kompak Turun!
Batu Bara Sepekan: Banyak Kabar Positif, Harga Tetap Terseret Turun
Harga batubara dunia terus mengalami penurunan selama seminggu terakhir meski didukung sejumlah indikator optimis. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak Newcastle Futures ditutup di US$132,4 per ton pada 9 April 2026, melemah 9,1% dibandingkan level 31 Maret di US$145,6 per ton. Bahkan jika dibandingkan dengan puncak sementara 30 Maret di US$148,6 per ton, penurunan mencapai sekitar 11%. Pergerakan harga minggu ini terbagi dalam dua tahap.
Pada awal April, harga masih stabil di kisaran US$139 per ton, didorong oleh peningkatan permintaan global akibat konflik Timur Tengah. Namun, perlahan sentimen positif berubah. Pada 8 April, harga meluncur ke US$132,45 per ton, turun 6,1% dalam dua hari. Koreksi ini terjadi karena penurunan harga minyak dan gas yang memicu penurunan daya tarik batubara sebagai bahan bakar alternatif. Di sisi lain, kebijakan Eropa dan Amerika Serikat memberi tekanan.
“Pemerintahan Donald Trump mengusulkan pelonggaran besar aturan limbah abu batubara atau coal ash,”
Kebijakan ini berpotensi mengizinkan lebih dari 100 lokasi penimbunan batubara terlepas dari kewajiban pembersihan EPA serta meringankan persyaratan pemantauan air tanah. Meski memberi ruang lebih besar bagi industri tambang dan utilitas listrik, kebijakan tersebut belum menjadi pemicu harga dalam jangka pendek. Sementara itu, Italia menunda penutupan empat PLTU hingga 2038 karena biaya listrik berbasis gas yang meningkat.
Minyak Sepekan: Lonjakan Panik ke Koreksi Tajam
Pasar minyak global mengalami fluktuasi tinggi akhir pekan ini. Kontrak Brent untuk pengiriman terdekat ditutup di US$95,20 per barel pada 10 April 2026, turun 13,28% dari US$109,77 per barel pada 31 Maret. Sementara WTI mencatat US$96,57 per barel, terkoreksi 14,09% dari US$112,41 per barel pada 6 April. Pergerakan ini mengalami dua fase: awal pekan berwarna merah karena kekhawatiran terkait gangguan pasokan di Selat Hormuz, sedangkan akhir pekan kembali stabil setelah muncul harapan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Lonjakan harga awalnya terjadi saat Brent hampir mencapai US$109 dan WTI berada di atas US$112 pada 6-7 April. Ketegangan tersebut dipicu oleh pembatasan arus kapal di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global. Risiko distribusi membesar setelah serangan terhadap fasilitas energi di Teluk, memicu kepanikan pasar. Namun, harga berbalik tajam pada 8 April. Brent turun ke US$94,75 dan WTI ke US$94,41, mengikuti berita gencatan senjata dua pekan yang membuka peluang pasokan energi kembali lancar.
Reli koreksi tidak berlangsung sempurna. Pada 9-10 April, harga kembali naik ke US$95-97 per barel setelah investor menilai kesepakatan damai masih kurang kuat. Lalu lintas kapal belum pulih, premi asuransi laut tetap tinggi, dan operator menunggu kepastian keamanan sebelum kembali melewati Hormuz. Dengan demikian, kertas perdamaian belum secara otomatis mengembalikan barel ke pasar.
Sentimen lain datang dari kebijakan Washington yang memperpanjang waiver pembelian minyak Rusia. Langkah ini dianggap sebagai upaya mengurangi tekanan harga bahan bakar bagi konsumen AS. Jika diterapkan, pasokan Rusia bisa menjadi penghalang sementara saat distribusi Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.