Sebulan Perang AS-Iran: Rial Loyo Lawan Dolar – Naik Tipis dari Rupiah

Sebulan Perang AS-Iran: Rial Masih Terpuruk, Kurs Terhadap Dolar dan Rupiah Cenderung Stabil

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasca satu bulan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, tekanan terhadap pasar keuangan Iran belum berkurang. Gejolak terlihat jelas melalui kurs rial Iran yang terus berada di posisi rendah, baik saat diukur terhadap dolar AS maupun rupiah Indonesia.

Kurs Rial Terhadap Dolar AS

Mata uang Iran tetap mengalami pelemahan meski tidak sebesar awal tahun. Dalam satu bulan perang, rial menunjukkan fluktuasi kecil, namun posisinya masih sangat rentan. Data Refinitiv menunjukkan bahwa kurs dolar AS terhadap rial Iran pada 28 Februari 2026 mencapai 1.313.863 rial per US$1. Pada penutupan perdagangan Jumat (4/4/2026), angkanya naik ke 1.316.135 rial per US$1, artinya rial melemah sekitar 0,17%.

Kenaikan Tipis Terhadap Rupiah

Di sisi lain, rial Iran justru menguat sedikit terhadap rupiah. Pada 27 Februari 2026, 1 rial senilai Rp0,0128. Namun, pada 3 April 2026, nilai tersebut naik menjadi Rp0,0129 per rial. Penguatan ini mencerminkan kenaikan sekitar 0,78%, meski terbatas dan tidak mampu menyelamatkan kondisi mata uang.

Kurun waktu perang tersebut, rial Iran mengalami pergerakan yang relatif sempit, tetapi tetap dalam posisi lemah. Kurs tertinggi tercatat pada 25 Maret 2026 sebesar 1.310.814 rial per US$1, sementara kurs terendah mencapai 1.321.780 rial per US$1 pada 11 Maret 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada sedikit penguatan, rial belum mampu memperbaiki kondisi ekonominya secara signifikan.

“Nilai tukar rial Iran yang sangat lemah memperbesar tekanan inflasi, merugikan impor, dan mengurangi kepercayaan publik terhadap mata uang domestik,” tulis CNBC Indonesia Research.

Dalam kondisi perang, ketidakpastian memperparah tekanan, dengan arus modal yang lebih cenderung mengalir keluar dan permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi. Meski ada perubahan kecil, rial Iran masih terjebak dalam jurang keterpurukan, menunjukkan bahwa konflik belum mampu membawa perbaikan berarti bagi ekonomi negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *