Special Plan: Eropa Mulai Ragu pada NATO, Tapi Belum Siap Berdiri Sendiri

Kondisi saat Ini

Beberapa negara Eropa mulai mempertanyakan peran NATO dalam menjaga keamanan wilayah mereka setelah Presiden AS, Donald Trump, mengkritik krisis yang menghantui aliansi tersebut. Ia menekankan kebutuhan Eropa untuk lebih mandiri dalam pertahanan, terutama setelah melihat anggota aliansi dianggap kurang aktif dalam operasi seperti konflik dengan Iran. Hal ini mendorong upaya pembentukan sistem militer Eropa yang mandiri, meski kepercayaan penuh belum tercapai.

Gagasan Militer Eropa

Sebagai organisasi politik dan ekonomi, Uni Eropa awalnya diciptakan untuk mempromosikan perdamaian di Eropa. Namun, dalam tiga dekade terakhir, perannya semakin meluas ke bidang keamanan. Saat ini, Eropa masih bergantung pada NATO untuk kebutuhan pertahanan, meski ambisi membangun kekuatan militer sendiri kini semakin mendesak. Ide ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran akan ancaman terhadap kedaulatan anggota.

NATO, sebagai aliansi militer barat yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, dan negara lain, selama ini menjadi pilar utama pertahanan Eropa. Namun, ketidakpuasan Trump terhadap kontribusi anggota Eropa menekan pergeseran pendekatan AS, yang kini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan NATO sebagai penjaga utama.

Target 60 Ribu Tentara Dipertanyakan

Sven Biscop, peneliti dari Egmont Institute, mengkritik rencana pembentukan pasukan militer Eropa sebanyak 50.000–60.000 personel sebagai target yang kurang realistis.

“Tidak akan ada yang percaya bahwa korps tentara ini akan terbentuk,” ujarnya.

Sebagai alternatif, pembentukan 5.000 pasukan Rapid Deployment Capacity (RDC) dianggap lebih praktis. Jenderal Sean Clancy menyatakan bahwa pasukan ini telah melalui pelatihan intensif dan siap untuk dikerahkan, tetapi pengerahan membutuhkan persetujuan dari 27 negara anggota.

Kesiapan politik dan logistik masih menjadi penghalang utama. Meskipun RDC dirancang untuk respons cepat, pasukan ini tidak ditujukan untuk menghadapi perang skala besar. Ini menunjukkan bahwa Eropa belum benar-benar bisa mandiri dalam pertahanan, meski usaha membangun kemampuan militer sendiri sedang berjalan.

Operasi Aspides dan Keterbatasannya

Dalam upaya meningkatkan kapasitas militer, Uni Eropa menguji kemampuannya melalui Operasi Aspides di Laut Merah. Operasi ini dimulai pada Februari 2024, bertujuan melindungi kapal dan mengintersepsi rudal serta drone. Sejumlah kapal berhasil menembak jatuh rudal balistik dari Yaman, sementara drone juga dilumpuhkan. Namun, kejadian keliru menargetkan drone milik AS oleh kapal Jerman Hessen mengungkap keterbatasan operasional.

Kapal tersebut melepaskan dua rudal pencegat SM-2 yang mahal, tetapi gagal mengenai sasaran. Akibatnya, kapal Hessen memilih menghindari Laut Merah, menunjukkan kurangnya kepercayaan diri dalam zona konflik berisiko tinggi. Analis Alex Luck mengkritik kelemahan pertahanan udara beberapa negara Eropa, termasuk Denmark dan Belgia, yang terlihat dari operasi ini. Johann Wadephul, Menteri Luar Negeri Jerman, menilai perluasan operasi ke Selat Hormuz tidak realistis tanpa gencatan senjata.

Kondisi saat ini menegaskan bahwa meski kemampuan militer Eropa sedang berkembang, kapasitasnya masih terbatas. Hal ini membuat NATO tetap menjadi tulang punggung pertahanan, sementara Eropa belum mampu berdiri sendiri dalam konflik besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *