Special Plan: Siapa Eyal Zamir? Otak “Kebrutalan”& Panglima Tertinggi Militer Israel

Siapa Eyal Zamir? Otak “Kebrutalan” dan Pemimpin Utama Militer Israel

Komando Tertinggi dan Peran Strategis

Di balik operasi militer Israel yang intens di wilayah Timur Tengah, Eyal Zamir berperan sebagai pengambil keputusan utama. Meskipun kebijakan besar tentang pertahanan diambil oleh pemerintah dan kabinet keamanan, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) tetap berada di bawah otoritas sipil, dengan Menteri Pertahanan sebagai figur pengawas. Zamir, sebagai Kepala Staf Umum IDF, mengemban tanggung jawab mengubah kebijakan politik menjadi strategi dan implementasi operasi di lapangan.

Pengalaman Karier yang Berkelanjutan

Eyal Zamir lahir di Eilat, Israel, tahun 1966. Ia memulai dinas militer pada 1984 setelah lulus dari sekolah persiapan komando junior IDF, lalu bergabung dengan Korps Lapis Baja. Dari tahap awal, Zamir menunjukkan kemampuan komando dengan peran sebagai komandan peleton tank, kompi, dan divisi. Pengalaman ini memperkuat kualifikasinya sebagai pemimpin strategis, sebelum naik ke posisi kritis di lingkaran kekuasaan negara.

Kariernya mengalami puncak pada 2023 ketika ditunjuk sebagai Direktur Umum Kementerian Pertahanan Israel. Sebelumnya, dari 2012 hingga 2015, ia menjabat sebagai sekretaris militer untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pada 2015–2018, ia memimpin Southern Command, komando yang paling sensitif karena langsung bersinggungan dengan wilayah Gaza. Dalam masa jabatan itu, Zamir terlibat dalam operasi menghadapi terowongan Hamas dan mengelola ketegangan perbatasan.

Pemimpin Baru di Fase Kritis

Setelah menjabat sebagai Kepala Staf Umum IDF pada awal 2025, Zamir mengambil alih komando di tengah fase kritis sejarah Israel. Kegagalan militer dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 membuat mantan pemimpin, Letnan Jenderal Herzi Halevi, mundur. Zamir kini memimpin operasi seperti Operation Roaring Lion, yang diluncurkan pada 28 Februari 2026 sebagai serangan ke Iran.

“Dalam masa jabatan itu, Zamir terlibat dalam upaya menghadapi terowongan-terowongan dari Gaza dan mengelola ketegangan di wilayah perbatasan.”

Pemilihan Zamir menunjukkan bahwa ia bukan hanya komandan lapangan, tetapi juga paham dinamika keputusan politik dan taktik militer. Dengan latar belakang yang meliputi pengalaman memimpin brigade cadangan Bnei Reshef selama Operation Defensive Shield, serta peran sebagai Deputi Kepala Staf Umum di bawah Aviv Kochavi, ia terbukti mampu menggabungkan pengalaman langsung dengan kemampuan merancang strategi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *