Topics Covered: 10 Gempa Terbesar yang Pernah Guncang Sulawesi Utara

10 Gempa Terbesar yang Pernah Guncang Sulawesi Utara

Pada pagi hari Kamis, 2 April 2026, wilayah Sulawesi Utara (Sulut) diguncang gempa bumi dengan magnitudo 7,6. Getaran ini terasa hingga daerah seperti Ternate, Manado, Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara. Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa episentrum gempa berada di perairan Laut Maluku, tepatnya di koordinat 1,21° LU-126,25° BT, dengan waktu terjadi pukul 05.48.14 WIB.

“Berdasarkan data BMKG, gempa ini memiliki magnitudo M7,3 dan kedalaman 18 km. Getaran terkuat tercatat di Pos PGA Dukono dan Ambang dengan skala III MMI, sedangkan di Karangetang mencapai skala III-IV MMI. Sementara itu, Tangkoko dan Mahawu mencatat skala IV-V MMI,” kata Lana dalam pernyataan resmi.

Indonesia, sebagai negara yang berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—sering mengalami fenomena gempa bumi. Wilayah ini secara geografis rentan terhadap aktivitas seismik, termasuk daerah Sulawesi Utara yang menjadi salah satu titik pemicu gempa berkekuatan besar.

Gempa Dahsyat yang Memicu Tsunami

Dalam sejarah, tercatat tiga gempa besar di Sulawesi Utara yang diikuti oleh gelombang tsunami. Peristiwa ini terjadi pada April 1936, Desember 1858, dan Desember 1910. Magnitudo masing-masing gempa mencapai 7,7; 7,3; dan 6,7. Gempa tahun 1936 dianggap paling signifikan karena menyebabkan kerusakan luas, seperti 169 rumah yang roboh, serta tsunami dengan ketinggian sekitar 3 meter di Sangihe.

Gempa pada 1845 juga tergolong mengerikan. Meskipun tidak memicu tsunami, getarannya dengan magnitudo 7,0 mengakibatkan hancurnya beberapa bangunan dan menewaskan 118 orang. Fenomena ini menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi Utara memang memiliki potensi bencana yang besar.

Gempa Masih Ada, Tapi Kerusakan Makin Minim

Gempa terakhir yang tercatat di Sulawesi Utara terjadi pada 18 Januari 2023 di Melonguane. Gempa tersebut memiliki magnitudo 7,1 dan kedalaman 64 km. Akibatnya, hanya satu rumah yang rusak sedang, tanpa korban jiwa, serta tidak menyebabkan tsunami. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun frekuensi gempa masih tinggi, dampaknya terasa lebih terkendali dibandingkan masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *