Special Plan: Permudah Akses Atlet Asing, Imigrasi Bantu Dorong Kualitas Kompetisi Olahraga Indonesia
Permudah Akses Atlet Asing, Imigrasi Bantu Dorong Kualitas Kompetisi Olahraga Indonesia
JAKARTA – Direktorat Jenderal Imigrasi (Ditjen Imigrasi) sedang menyediakan fasilitas khusus untuk para atlet asing, dengan tujuan mempercepat proses pengurusan dokumen. Langkah ini bertujuan meningkatkan pengalaman atlet yang berada di Tanah Air. Selain performa di lapangan, kemajuan olahraga nasional juga dipengaruhi oleh sistem pendukung yang efektif. Oleh karena itu, pemberian dukungan administratif menjadi aspek kritis dalam memperbaiki level kompetisi.
Ditjen Imigrasi mengambil tindakan strategis untuk menyederhanakan administrasi bagi atlet asing yang datang ke Indonesia. Upaya ini dilakukan menyusul meningkatnya partisipasi pemain asing dalam berbagai pertandingan. Tim khusus telah dibentuk untuk menangani kebutuhan atlet, mulai dari saat mereka tiba di bandara hingga selesai proses keimigrasian. Kebijakan ini selaras dengan kebutuhan ajang olahraga domestik yang rutin diadakan.
Kebijakan Sesuai Permainan Kompetisi
Dalam kompetisi lokal, beberapa ajang seperti Super League (sepakbola), Indonesian Basketball League (bola basket), dan Proliga (bola voli) mengandalkan lebih dari satu atlet asing per tim. Kehadiran mereka menjadi faktor kunci dalam meningkatkan standar pertandingan. Untuk musim ini, Super League memberi izin klub untuk mengontrak 11 pemain asing, di mana maksimal tujuh di antaranya bisa dimainkan dalam satu pertandingan. Sementara IBL 2026 memperbolehkan tiga pemain asing per tim, sedangkan Proliga tetap menggunakan kuota dua.
“Salah satu fungsi imigrasi adalah memfasilitasi berbagai sektor, termasuk olahraga. Ketika saya baru menjabat, saya memiliki gagasan bahwa sektor olahraga harus diberi kemudahan dalam pengurusan administrasi,” ujar Hendarsam Marantoko dalam keterangan resmi, dikutip Senin (13/4/2026).
Ditjen Imigrasi berkomitmen untuk memberikan jalur cepat atau fast track di bandara, serta proses administrasi yang lebih sederhana berbasis aplikasi. Langkah ini diharapkan mempercepat proses kedatangan atlet asing tanpa mengorbankan kualitas layanan. “Kami menyediakan jalur khusus bagi para atlet, sehingga mereka tidak perlu mengantre. Selain itu, pengurusan dokumen akan lebih efisien melalui sistem aplikasi,” terangnya.
Kebijakan ini tetap mempertahankan fungsi pengawasan, terutama terhadap atlet asing yang bekerja di Indonesia. Pendekatan yang diterapkan disesuaikan dengan jenis kunjungan dan kebutuhan. “Perlu diingat, ada dua pendekatan kami lakukan. Untuk atlet yang hanya tampil dalam satu event, pengawasan tidak terlalu ketat. Namun, bagi mereka yang bekerja jangka panjang, pengawasan tetap dilakukan,” jelas Hendarsam.