50 Tahun Apple – CEO Tim Cook Ungkap Fakta Menyedihkan

50 Tahun Apple, CEO Tim Cook Ungkap Fakta Menyedihkan

Dalam perayaan 50 tahun berdirinya Apple, Tim Cook, pemimpin perusahaan tersebut, menyampaikan pernyataan emosional yang mencerminkan rasa kehilangan terhadap pendirinya, Steve Jobs. Meski telah memimpin Apple sejak 2011 setelah Jobs wafat, Cook masih merasa terhubung dengan prinsip-prinsip yang ditinggalkan sang pendiri. Ia menjelaskan bahwa Jobs memiliki keyakinan pada konsep sederhana, bukan rumit, serta menghargai kolaborasi antar tim kecil.

Mengenang Prinsip Pendiri

“Saya sering memikirkannya, dan dalam beberapa bulan terakhir, khususnya saat memperingati ulang tahun ke-50, saya makin sering memikirkannya. Anda memikirkan hal-hal yang diyakini. Dia percaya pada hal-hal sederhana, bukan yang kompleks. Dia percaya pada kolaborasi, jika Anda menyatukan sekelompok kecil orang, hasil kerja kelompok kecil itu akan jauh lebih besar dari hasil kerja individu manapun di antara mereka,” jelasnya.

Cook juga menekankan bahwa Apple tetap dianggap sebagai perusahaan yang diwariskan oleh Jobs. Meski sang pendiri telah pensiun, kata dia, peran Jobs dalam arah pengembangan perusahaan tetap tidak tergantikan. “Jika melihat ke belakang, saya tahu seseorang mungkin berkata, bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu mengingat keadaannya?” tambahnya.

Hubungan dengan Pemerintahan AS

Di kesempatan ini, Cook menyebutkan perbedaan antara pemerintahan Trump dengan presiden sebelumnya. Ia mengatakan bahwa Trump memudahkan akses untuk berkomunikasi, termasuk dengan Apple. “Jadi Anda bisa berbicara dengan mereka mengenai sudut pandang Anda soal berbagai hal. Mereka mungkin tidak setuju, namun Anda bisa terlibat. Suara Anda bisa didengar. Pada akhirnya, mungkin tidak bisa meyakinkan mereka,” ucap pria berusia 65 tahun.

Peran Global Apple

Cook menekankan bahwa keberadaan Apple di seluruh dunia, bukan hanya di AS, sangat penting. Meski terdapat perspektif yang berbeda, menurutnya, komunikasi langsung dan dialog antar negara adalah cara utama untuk memahami satu sama lain. “Setiap negara memiliki kisahnya sendiri. Tiap orang memandang sesuatu secara berbeda. Dan satu-satunya cara memahami hal itu dengan duduk di hadapan seseorang dan berkomunikasi, serta terlibat,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *