Facing Challenges: China Makin Gacor Setelah Masuk Daftar Hitam AS, Trump Bye!

China Makin Gacor Setelah Masuk Daftar Hitam AS, Trump Bye!

Jakarta – Pabrikan chip Tiongkok tengah menikmati momentum penuh. Pertumbuhan bisnis mencuat meski terjadi pembatasan ekspor teknologi chip dari AS, sekaligus menghadapi krisis pasokan memori yang memengaruhi industri global. Analis dan perusahaan lokal optimis proyeksi pendapatan tahunan akan meningkat sepanjang tahun ini, terutama karena kebutuhan besar terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan teknologi domestik.

SMIC dan Hua Hong Catatkan Kenaikan Pendapatan

SMIC, sebagai produsen chip terbesar di Tiongkok, mencatatkan pendapatan mencapai US$9,3 miliar pada 2025, naik 16% dibandingkan tahun sebelumnya, dan menorehkan rekor baru. Dalam hal ini, SMIC menjadi salah satu perusahaan yang masuk daftar hitam AS, namun kemampuan produksi mereka terus bertumbuh. Di sisi lain, Hua Hong juga melaporkan peningkatan pendapatan kuartal keempat 2025, mencapai US$659,9 juta, dengan rekor pendapatan yang terus menguat.

Moore Threads, perusahaan yang ingin bersaing dengan Nvidia, diprediksi akan mencapai pendapatan antara 1,45 hingga 1,52 miliar yuan pada 2025, naik 231 hingga 247% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam sektor semikonduktor Tiongkok.

Faktor Penyebab Kenaikan Industri Chip

Kenaikan performa industri chip Tiongkok dipicu oleh beberapa elemen. Pertumbuhan industri kendaraan listrik (EV) dan infrastruktur pendukungnya memberikan momentum bagi perusahaan semikonduktor yang sebelumnya kurang berkembang. Selain itu, permintaan chip canggih untuk kecerdasan buatan (AI) juga menjadi penyumbang utama.

“Kontrol ekspor AS selama beberapa tahun terakhir memaksa Tiongkok untuk mempercepat penelitian teknologi domestik,” ujar Triolo kepada CNBC. Dengan dibatasi akses ke teknologi kunci, Beijing semakin giat mendorong pengembangan solusi dalam negeri. Perusahaan seperti Huawei mulai memainkan peran penting, meskipun kinerjanya masih tertinggal dari produsen AS.

“Meskipun Tiongkok belum mengungguli AS dalam kinerja GPU, solusi lokal ini memenuhi kebutuhan ‘kesenjangan komputasi’ domestik dan mendorong pendapatan rekor,” kata Parv Sharma, analis senior di Counterpoint Research, kepada CNBC.

Perusahaan Memori Tiongkok Melonjak

Perusahaan memori Tiongkok seperti ChangXin Memory Technologies (CXMT) juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pendapatan CXMT naik 130% tahun ke tahun, mencapai lebih dari 55 miliar yuan, menurut laporan Bloomberg. Ini terjadi karena keterbatasan pasokan memori global, sementara permintaan tetap tinggi, terutama untuk data center AI dan perangkat elektronik konsumen.

Memori bandwidth tinggi (HBM), komponen penting untuk AI, sebelumnya didominasi oleh produsen seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron. Namun, pembatasan ekspor HBM ke Tiongkok memberikan peluang bagi CXMT. Meski teknologi mereka belum menyamai pemain utama, CXMT diharapkan dapat memproduksi HBM3 tahun ini.

“Setelah HBM dibatasi masuk ke Tiongkok, CXMT menjadi satu-satunya alternatif lokal, sehingga bahkan teknologi HBM2 atau HBM2e yang lebih rendah pun disambut antusias,” tambah Phelix Lee, analis ekuitas senior di Morningstar, kepada CNBC.

Teknologi Tiongkok masih ketinggalan dari AS, terutama dalam segi inovasi puncak. Namun, keahlian yang terakumulasi dalam produksi memori berpotensi membuka jalan untuk kemajuan dalam teknologi chip lain, seperti GPU. Triolo dari Albright Stonebridge Group menilai, pabrikan memori Tiongkok kini menjadi inkubator teknologi proses canggih, sejak pembatasan ekspor AS Oktober 2022.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *