Facing Challenges: Pantai RI Sering Jadi ‘Kuburan’ Paus, Ahli UGM Ungkap Alarm Bahaya
Pantai RI Sering Jadi ‘Kuburan’ Paus, Ahli UGM Ungkap Alarm Bahaya
Pada Senin (9/3/2026), sekitar puluhan paus pilot yang terdampar di pesisir Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu kekacauan di kalangan masyarakat. Menurut laporan Universitas Gadjah Mada (UGM), dari total 55 individu paus pilot yang terdampar, 21 di antaranya termasuk 4 calon bayi dan 17 dewasa yang tidak dapat dipulihkan. Sementara 34 ekor berhasil dibawa kembali ke perairan laut.
Ahli UGM : Gangguan Ekologis Mengancam Populasi
Dosen Biologi UGM, Akbar Reza, menyampaikan kekhawatirannya terhadap kejadian tersebut. Ia menekankan bahwa paus pilot memiliki status konservasi yang rentan, dengan IUCN tidak menyebutkan data populasi globalnya. “Kita tidak memiliki angka pasti jumlah populasi, sehingga sulit menilai apakah terjadi penurunan atau peningkatan,” jelasnya, dikutip Jumat (3/4/2026).
“Paus-paus ini memang sering terdampar, tapi kejadian seperti ini sudah berulang, meskipun sering terjadi, bukan berarti alami,” tambah Akbar.
Menurut Akbar, kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi di NTT. Pada 2024, 50 paus pilot terdampar di Alor, sementara 2020 lalu, 11 individu ditemukan di Sabu Raijua dan 52 ekor di Madura. “Area NTT, Laut Sawu, serta wilayah Kupang bagian barat merupakan jalur migrasi tahunan,” terangnya. Paus-paus ini bergerak dari selatan ke utara, mencari suhu laut yang lebih hangat dari daerah dingin Australia.
Penyebab Kematian Paus Dibahas
Akbar menjelaskan bahwa penyebab pasti kematian paus pilot memerlukan pembedahan atau nekropsi. “Seperti manusia melakukan visum untuk mengetahui sebab kematian,” katanya. Faktor utama yang disebutkan meliputi gangguan ekolokasi akibat kebisingan lingkungan, seperti aktivitas kapal, sonar, atau eksplorasi migas. Selain itu, parasit, polusi, serta sampah nelayan juga bisa merusak organ mereka.
Ditambahkan Akbar, substrat di beberapa wilayah NTT yang berupa lumpur dan pasir membuat gelombang suara dipantulkan kurang efektif dibanding substrat keras, seperti karang. “Kerusakan ekolokasi ini bisa memperparah situasi, karena paus tidak bisa mendeteksi kedalaman laut,” jelasnya. Hal ini berpotensi membuat mereka tersesat dan terdampar.
“Ketika kepemimpinan kelompok paus terganggu, anggota lainnya pun ikut terdampar. Mereka juga rentan terhadap polusi air dan perubahan lingkungan, termasuk dampak badai matahari,” tambah Akbar.
Kolaborasi penelitian dari BRIN dan James Cook University, Australia, menunjukkan bahwa sejak tahun ’90-an hingga 2021, lebih dari 20 spesies paus dan lumba-lumba tercatat terdampar di perairan Indonesia. Contohnya lumba-lumba hidung botol, paus biru, serta dugong. “Penyebab kematian ini masih perlu dikaji lebih lanjut melalui nekropsi,” pungkasnya.