Facing Challenges: Penelitian Ungkap Dunia Tanpa HP, Lebik Bahagia atau Malah Suram?
Penelitian Ungkap: Dunia Tanpa Ponsel Bisa Lebih Bahagia atau Justru Lebih Suram?
Jakarta — Dengan munculnya smartphone, internet, serta media sosial, berbagai teori mengemukakan dampak negatifnya. Namun, apakah semua teori itu benar? Artikel berjudul “Is the Smartphone Theory of Everything Wrong?” oleh Derek Thompson mencoba memecahkan misteri tersebut.
Profesor dari NYU, Arpit Gupta, dulu mengusulkan konsep “Smartphone theory of Everything” yang terkait dengan masalah kesehatan mental, adiksi judi, dan fenomena polarisasi informasi. Namun, mendapatkan jawaban pasti soal dampak jangka panjang perangkat ini tidak mudah. Matthew Gentzkow, ekonom dari Stanford, menjelaskan bahwa mengulang sejarah tanpa iPhone atau Facebook bukan eksperimen yang layak. Eksperimen acak biasanya hanya berupa intervensi jangka pendek, sementara analisis data observasional jangka panjang menghadapi tantangan besar dalam menyimpulkan hubungan sebab-akibat.
“Mengulang sejarah tanpa iPhone atau Facebook bukan eksperimen yang layak. Eksperimen acak yang bisa dilakukan umumnya adalah intervensi terbatas jangka pendek, dan analisa data observasional dalam jangka waktu yang lebih panjang menghadapi rintangan besar saat menyimpulkan kausalitas,”
Artikel tersebut juga menyoroti bahwa smartphone tidak bisa dibandingkan langsung dengan rokok. Banyak orang sering menggambarkannya sebagai benda yang memicu kecanduan, tetapi kenyataannya, setiap individu memiliki pengalaman digital yang berbeda. Penelitian tentang perangkat ini juga sulit karena efeknya bersifat variatif: dampak kecil pada sebagian besar populasi, sebaliknya efek besar untuk kelompok kecil.
Sebuah penelitian oleh Gentzkow melibatkan sekitar 1.700 warga AS yang menonaktifkan Facebook selama empat minggu sebelum pemilihan paruh waktu 2018. Hasilnya, peserta yang menjauh dari Facebook melaporkan lebih bahagia, lebih tenang, dan kurang terpolarisasi secara politik. Temuan ini membuat banyak pihak melihat smartphone dan media sosial sebagai akar masalah.
Perlu dicatat bahwa orang yang tidak menggunakan akun atau menonaktifkan aplikasi tetap tidak menghindari informasi. Smartphone adalah sistem penyampaian data, di mana informasi mengalir dari berita, koneksi, hingga persahabatan. Jika perangkat ini menyebabkan orang AS cenderung depresi, menggali teori konspirasi, atau cemas, kemungkinan besar karena sumber berita yang dianggap negatif.
Penelitian 2025 menemukan bahwa menghapus akses internet secara acak dari smartphone berdampak positif pada kesehatan mental, kesejahteraan, dan daya perhatian. Namun, efek ini bukan disebabkan oleh hilangnya dampak smartphone itu sendiri, tetapi oleh perubahan cara orang berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa ponsel, mereka lebih aktif bersosialisasi, berolahraga, dan menikmati alam.