Facing Challenges: RI dalam Bahaya, NASA Blak-blakan Ungkap Tanda Kiamat
RI dalam Bahaya, NASA Blak-blakan Ungkap Tanda Kiamat
Dilaporkan bahwa NASA memperkirakan kenaikan permukaan laut akan terjadi pada 2100 mendatang. Prediksi ini didasarkan pada perubahan iklim yang memicu melelehnya es di kutub, sehingga mengakibatkan kenaikan hingga 3-6 kaki. Fenomena ini membahayakan ratusan juta orang, terutama warga pesisir yang terancam kehilangan tempat tinggal.
Dari 10 kota besar global yang terancam, Jakarta adalah salah satunya. Tanda-tanda penurunan ketinggian wilayah sudah terlihat jelas, seperti banjir yang sering terjadi.
Laporan Sciencing menyebut Jakarta sebagai kota yang paling cepat tenggelam.
Kota ini mengalami kenaikan air mencapai 17 cm per tahun, dan lokasinya di dataran rendah yang dulunya dominasi rawa. Terdapat 13 aliran sungai melewati area perkotaan hingga Laut Jawa, sehingga hampir seluruh wilayah rentan terhadap peningkatan permukaan air.
Banjir di Jakarta juga semakin parah. Pada 2007, tragedi itu menyebabkan 80 korban jiwa dan kerugian mencapai ratusan juta dolar. Selain itu, masalah polusi dan penyumbatan memperparah situasi. Kenaikan air laut dan pembangunan infrastruktur di pesisir menjadi penyebab utama ancaman ini. Laporan itu juga menyoroti risiko banjir sebagai alasan pemerintah memindahkan ibu kota ke IKN pada 2022.
Alexandria, Mesir
Kota ini menjadi pusat perdagangan penting di antar benua. Sebagai terminal Pipa SUMED, Alexandria menyalurkan minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab ke Eropa melalui laut Merah dan Mediterania. Namun, penggunaan bahan bakar fosil mempercepat pencairan es gletser, sehingga risiko tenggelam memengaruhi 30% wilayah pada 2050. Dampaknya bisa menyebabkan 1,5 juta orang terpaksa mengungsi dan merusak Delta Nil.
Miami, Amerika Serikat
Miami, yang berada 6 kaki di atas permukaan laut, terancam tenggelam pada 2060. Diperkirakan 60% kota akan terendam. Penyebabnya antara lain pembangunan gedung mewah di area pesisir dan kenaikan air laut. Sciencing menyatakan bahwa bencana ini bisa menjadi krisis ekonomi terburuk dalam sejarah.
Lagos, Nigeria
Kota terbesar di Afrika sering mengalami banjir saat musim panas. Tingkat penurunan ketinggian wilayah mencapai lebih dari 3 inci per tahun. Tantangan ini semakin memburuk akibat perubahan iklim yang terus berlanjut.
Dhaka, Bangladesh
Ibu kota Bangladesh mengalami banjir dengan intensitas meningkat. Pada 2024, banjir di Bengal Barat menyebabkan dampak pada 250.000 orang. Diperkirakan, bencana parah bisa mengakibatkan lebih dari 10 juta warga terpaksa berpindah tempat tinggal.
Yangon, Myanmar
Kota ini juga sering terkena banjir. Ancaman tambahan datang dari lokasinya yang dekat sesar Sagaing. Jika gempa besar terjadi, sumur air tanah bisa runtuh dan mengancam sebagian besar kota.
Bangkok, Thailand
Tenggelamnya Bangkok telah terlihat sejak beberapa tahun lalu. Kota ini kehilangan wilayah daratan, dengan garis pantai naik hingga lebih dari 1 km per tahun. Diperkirakan mayoritas area akan lenyap dalam satu abad.
Kolkata, India
Kota terbesar di India terancam oleh kenaikan air laut dan ekstraksi air tanah berlebihan. Banjir sering terjadi, seperti pada 2024, yang memengaruhi 250.000 orang. Jika intensitas memburuk, lebih dari 10 juta warga mungkin terpaksa mengungsi.
Manila, Filipina
Manila mengalami penurunan ketinggian sebesar 4 inci per tahun, lebih tinggi dari rata-rata kenaikan permukaan laut global. Masalah kerusakan hutan mangrove di Manila Bay juga memperparah ketidakstabilan wilayah. Terdapat 130 ribu hektar hutan yang terancam erosi akibat ekstraksi air tanah dan aktivitas seismik dari Gunung Taal.
Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau
Kawasan Pearl River Delta, yang mencakup Guangdong, Hong Kong, dan Makau, diperkirakan mengalami kenaikan air laut hingga 5 kaki dalam 100 tahun ke depan. Catatan ini menunjukkan potensi daerah tersebut tenggelam di masa depan.