Historic Moment: Mahasiswa Hukum-Kedokteran Disebut Buang-buang Waktu, Ini Alasannya

Mahasiswa Hukum-Kedokteran Disebut Buang-buang Waktu, Ini Alasannya

Di Jakarta, gelar akademik yang dianggap bergengsi seperti hukum dan kedokteran mulai dipertanyakan relevansinya di masa depan. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai sebagai penyebab utama kekhawatiran ini. Pendiri tim AI generatif pertama di Google, Jad Tarifi, menyatakan bahwa gelar tersebut bisa jadi tidak bermanfaat lagi sebelum lulusan selesai menyelesaikan studinya.

“AI sendiri akan hilang saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu,” ujar Tarifi, yang juga lulusan PhD bidang AI, dikutip dari Fortune, Rabu (1/4/2026).

Pendapat kontroversial ini muncul karena Tarifi menilai durasi pendidikan hukum dan kedokteran terlalu panjang. Untuk memperoleh gelar profesional seperti dokter atau pengacara, mahasiswa membutuhkan hampir satu dekade sebelum dapat masuk ke dunia kerja. Durasi tersebut, menurutnya, akan membuat mereka terjebak dengan pengetahuan yang ketinggalan zaman.

Tarifi juga menyoroti metode pendidikan yang saat ini masih mengandalkan hafalan. Ia mengkritik pendekatan ini karena tidak memadai untuk menghadapi era AI. Menurutnya, keterampilan yang relevan, seperti pemecahan masalah dan adaptasi teknologi, lebih penting dibandingkan hanya menumpuk kredensial akademik.

Rekomendasi Tarifi untuk Generasi Muda

Untuk menghadapi perubahan teknologi, Tarifi menyarankan fokus pada kemampuan manusia yang sulit ditiru mesin. Misalnya, keterampilan interpersonal, kepekaan emosional, dan kemampuan berempati. Ia menekankan bahwa keberhasilan di masa depan tidak hanya bergantung pada gelar, tetapi pada pengembangan diri secara emosional dan hubungan antarmanusia yang kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *