Key Issue: Penyebab Orang Pikun, Ilmuwan Temukan Cara Ampuh Mengatasinya
Penyebab Orang Pikun, Ilmuwan Temukan Cara Ampuh Mengatasinya
Penuaan memengaruhi fungsi kognitif, sering kali menyebabkan gejala seperti lupa atau pikun. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Virginia Tech mengungkap bahwa penurunan memori saat bertambah usia berkaitan dengan perubahan molekuler spesifik di otak. Solusi untuk memulihkan ingatan bisa dicapai dengan memperbaiki proses molekuler tersebut.
Proses Molekuler dan Peran Otak
Tim peneliti menemukan bahwa mekanisme bernama poliubikuitinasi K63 memainkan peran kunci dalam perubahan fungsi otak seiring bertambahnya usia. Proses ini mengatur perilaku protein di dalam sel otak, sehingga ketika berjalan dengan baik, neuron dapat berkomunikasi secara efektif dan membentuk ingatan. Namun, pada usia lanjut, poliubikuitinasi K63 mengalami perubahan di dua wilayah otak penting.
“Penelitian ini menunjukkan penurunan ingatan terkait dengan perubahan molekuler spesifik yang bisa ditargetkan dan dipelajari,” kata Profesor Timothy Jarome dari Fakultas Ilmu Hewan, Pertanian, dan Ilmu Hayati, dilansir dari Science Daily, Jumat (3/4/2026). “Dengan memahami penyebabnya pada tingkat molekuler, kita bisa mengidentifikasi gangguan demensia dan mengembangkan pendekatan terapi baru,” tambahnya.
Dalam penelitian tersebut, Jarome dan mahasiswa doktoral Yeeun Bae serta tim lainnya melakukan intervensi pada proses poliubiquitination K63. Di hipokampus, yang terkait dengan pembentukan dan pemanggilan ingatan, kadar poliubikuitinasi meningkat. Sementara di amigdala, wilayah otak berperan dalam memori emosional, proses ini berkurang. Penyesuaian pada area tersebut berhasil meningkatkan kinerja memori.
Gen IGF2 dan Peningkatan Memori
Penelitian yang berbeda menyoroti gen IGF2, yang terkait dengan pertumbuhan dan kemampuan membentuk ingatan. Fungsi gen ini menurun seiring bertambahnya usia, terkait dengan proses alami metilasi DNA. Para ilmuwan menggunakan teknik penyuntingan gen CRISPR-dCas9 untuk menghilangkan penanda kimia pada DNA, sehingga memungkinkan fungsi IGF2 kembali aktif.
“Dengan mengaktifkan kembali gen IGF2, hewan percobaan yang berusia tua menunjukkan peningkatan memori yang signifikan,” jelas Jarome. “Hewan paruh baya yang belum mengalami gangguan tidak terkena dampak, menunjukkan pentingnya intervensi tepat waktu. Kita harus bertindak segera saat tanda-tanda masalah muncul,” tambahnya.
Metode ini menunjukkan potensi untuk mengatasi penyebab pikun secara spesifik. Dengan menyesuaikan perubahan molekuler di hipokampus dan amigdala, para peneliti mencoba memulihkan fungsi otak yang terganggu. Hasil uji coba pada tikus menunjukkan perbaikan nyata dalam kemampuan ingatan, memberi harapan untuk terapi di masa depan.