Latest Program: Negara Eropa Terpecah Gara-gara Megaproyek China Senilai Rp 19 Triliun

Negara Eropa Terpecah Gara-gara Megaproyek China Senilai Rp 19 Triliun

TikTok, perusahaan media sosial raksasa dari Tiongkok, berencana mengalokasikan 1 miliar euro (sekitar Rp19 triliun) untuk membangun data center kedua di Finlandia. Proyek ini akan rampung dalam waktu kurang dari setahun, menurut pernyataan resmi perusahaan pada Rabu (8/4) waktu setempat. Tujuan utama investasi tersebut adalah memindahkan penyimpanan data pengguna Eropa ke lokasi baru, sesuai dengan strategi perusahaan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan.

Finlandia, yang dikenal sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan penduduk tertinggi di dunia, menjadi lokasi menarik bagi perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Google untuk membangun pusat data. Lokasi ini dianggap strategis karena biaya energi yang rendah dan kemampuan menekan dampak lingkungan. Iklim dingin Finlandia memungkinkan infrastruktur data center lebih hemat dalam mengelola panas, sementara biaya listrik serta regulasi bisnis yang ramah menjadi faktor utama dalam pilihan lokasi.

Berbeda dengan beberapa politisi Finlandia, wali kota Lahti mengapresiasi masuknya investasi baru ke wilayahnya. Ia mengatakan proyek ini memperkuat potensi ekonomi daerah dan mempercepat pengembangan teknologi. “Di konteks Lahti, dana yang dialokasikan sangat signifikan. Kami senang proyek ini sudah ditandatangani dan berjalan sesuai rencana awal,” ujarnya. Namun, sejumlah anggota politik merasa waspada terhadap rencana TikTok, terutama setelah Reuters mengungkapkan proyek tersebut pada April 2025 lalu.

“Setidaknya, saya berharap perusahaan pengembang properti akan mempertimbangkan kembali apakah mereka benar-benar menginginkan TikTok sebagai penyewa mereka,” kata Menteri Ekonomi Finlandia Wille Rydman, merujuk pada mitra lokal TikTok.

Keputusan TikTok ini juga terjadi di tengah tekanan regulator Eropa terhadap platform media sosial. Eropa meminta perusahaan seperti TikTok untuk melindungi anak-anak dari risiko algoritma yang dianggap adiktif. Selain itu, ByteDance, induk perusahaan TikTok, berhasil menghindari larangan total dari AS dengan menyerahkan operasional ke entitas baru yang diinisiasi pemerintahan Trump pada Januari lalu.

Data pengguna Eropa saat ini disimpan di tiga pusat data di Norwegia, Irlandia, dan AS dengan sistem keamanan yang lebih ketat. Data center pertama di Finlandia, yang berada di Kouvola, akan beroperasi pada akhir tahun ini, sementara proyek kedua di Lahti akan siap pada 2027 mendatang. Meskipun Kementerian Pertahanan Finlandia telah menyetujui investasi tersebut pada 2024, politisi setempat merasa tidak cukup diinformasikan secara transparan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *