Makhluk Dikira Punah 6.000 Tahun Ditemukan di Papua – Masih Hidup
Makhluk Dikira Punah 6.000 Tahun Ditemukan di Papua, Masih Hidup
Dua spesies hewan marsupial yang selama ini dianggap punah sejak 6.000 tahun lalu, kini terbukti masih bertahan hidup di hutan hujan Semenanjung Vogelkop, Papua, Indonesia. Temuan ini mencapai akhir setelah penelitian yang berlangsung hampir tiga dekade, dengan hasil akhirnya dipublikasikan pada 6 Maret dalam dua studi yang melewati proses peninjauan oleh para ahli di jurnal Records of the Australian Museum.
Marsupial, sejenis mamalia dengan kantong khas untuk membawa janin hingga berkembang sempurna, sebelumnya hanya diketahui melalui fosil dari Zaman Es dan awal Holosen di Australia. Kini, spesies ring-tailed glider (Tous ayamaruensis) serta pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai) terbukti hidup di wilayah terpencil yang menjadi bagian dari benua Australia yang kini terhubung dengan Pulau Nugini.
“Hutan-hutan di sini bisa jadi menyimpan sisa-sisa kehidupan dari masa lalu benua Australia,” kata Tim Flannery, peneliti utama, seperti dikutip CNBC Indonesia dari LiveScience, Sabtu (4/4/2026).
Temuan dua spesies sekaligus dinilai sangat langka dalam sejarah penelitian biologi. Flannery menekankan pentingnya melindungi kawasan bioregion unik serta kerja sama antara ilmuwan dan masyarakat adat untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Kelompok masyarakat adat Papua, khususnya klan Tambrauw dan Maybrat, memberikan kontribusi kunci dalam melacak keberadaan hewan-hewan ini di lingkungan aslinya. Lokasi spesimen dipersembunyikan untuk menghindari ancaman perburuan ilegal.
Dari segi morfologi, pygmy long-fingered possum memiliki jari panjang yang digunakan untuk memanjat pohon lapuk, sementara ring-tailed glider mampu melayang di antara pepohonan, meski ukurannya lebih kecil dibandingkan kerabatnya di Australia.
Spesies ini termasuk dalam kategori “Lazarus taxa,” yang sempat menghilang dari catatan fosil sebelum ditemukan kembali. Meski begitu, masih banyak aspek tentang habitat dan kebutuhan ekologis yang belum terungkap.
Kemunculan dua spesies ini mengubah persepsi tentang konservasi hewan langka, menegaskan bahwa keanekaragaman hayati di wilayah Papua belum sepenuhnya dijelaskan.