Topics Covered: Viral Warteg ‘Fancy’ di Jaksel, Sekali Makan Bayar Rp 800.000

Viral Warteg ‘Fancy’ di Jaksel, Sekali Makan Bayar Rp 800.000

Sebuah warung makan bernama ‘Salira’ di Senopati, Jakarta Selatan, kini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Restoran ini, yang merupakan bagian dari jaringan F&B Union Group, menghadirkan konsep baru dengan menggabungkan suasana tradisional warung makan dan fasilitas modern yang menawarkan pengalaman premium. Di dalam etalase kaca yang terbuka-tutup menggunakan gorden vitrase, tersedia berbagai lauk khas masakan rumahan Nusantara. Pengunjung dapat memilih makanan secara langsung, lalu ‘penjaga warung’ akan menyiapkannya di atas piring.

Konten Warteg Fancy Menjadi Viral

Konten yang menyoroti ‘Salira’ mulai menyebar di linimasa TikTok, menarik perhatian ribuan pengguna. Fenomena ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat, mulai dari rasa penasaran hingga kritik terhadap harga yang dianggap mahal. Menurut peneliti budaya popular, Hikmat Darmawan, tren ini berkaitan dengan akselerasi budaya FOMO (fear of missing out) yang semakin populer di era digital. Ia menjelaskan, “Begitu ada media sosial, memang orang lebih banyak berbicara soal ekonomi perhatian, di mana nilai ekonomi bukan hanya pada pembelian barang, tetapi kepada jumlah perhatian. Komoditasnya adalah perhatian masyarakat.”

“Orang kan jadi FOMO pingin tahu, pingin lihat ini gimana sih, apalagi ini kan Union Group. Tapi kalau mau dibilang ini seperti warteg, menurutku sih nggak nyampe. Untuk rasa, masih lebih enak masakanku. Ibu kita lebih jago masak, kalau dengan harga yang begitu ya, karena ini pricey,”

kata D, seorang pengunjung yang datang untuk kedua kalinya.

Pengalaman Makan di Warteg Fancy

Salira menawarkan suasana berbeda dari warung makan tradisional. Pengunjung seperti D tiba di sana sekitar pukul 12:38 WIB dan harus menunggu daftar tunggu, sesuatu yang langka di tempat konvensional. Demografi pengunjung pun terlihat berbeda, dengan banyak orang yang mengenakan pakaian fesyen kelas atas dan membawa tas merek terkenal seperti Louis Vuitton, Celine, Goyard, Chanel, dan lainnya. “Kalau buatku personal sih, sekali aja cukup. Kalau tahu rasa, sebenarnya masih banyak restoran lebih enak dengan harga terjangkau. Tapi sekarang ini orang kan pingin gaya, apalagi ini di [Jakarta] Selatan. Orang-orang yang gengsi makan di warteg mau ke sini karena citarasa wartegnya ada, gayanya dapat, tempatnya nyaman,” ujarnya.

Dalam kunjungan pertamanya, D menghabiskan Rp800.000 untuk makan bersama dua teman. Masing-masing pesanan mencakup dua minuman, beberapa lauk, camilan, serta hidangan pencuci mulut. Meski secara umum kurang menyukai rasa makanan, ia mengakui beberapa menu seperti cempedak goreng dan wedang jahe cukup menyenangkan.

Warteg Fancy: Bentuk Gentrifikasi Kuliner

Hikmat menekankan bahwa gaya hidup saat ini tidak hanya ditentukan oleh rasa atau selera, tetapi juga oleh kemampuan menampilkan kegiatan tersebut di media sosial. “Budaya FOMO ini sering dimanfaatkan oleh pemasar produk. Kalau sesuatu laku, belum berarti karena kualitasnya, tetapi karena perhatiannya [besar], karena FOMO-nya,” tambahnya. Warteg ‘fancy’ seperti Salira, menurutnya, menjadi contoh gentrifikasi kuliner, di mana nilai produk diukur melalui kemudahan pembelian dan kesan eksklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *