New Policy: AS Kembangkan Baterai Nuklir Berdaya Tinggi untuk Pertahanan Militer
AS Kembangkan Baterai Nuklir Berdaya Tinggi untuk Pertahanan Militer
Badan Penelitian Pertahanan Amerika Serikat (DARPA) tengah menghadirkan inovasi baterai nuklir baru yang dirancang untuk menyuplai energi perangkat portabel seperti laptop hingga berbulan-bulan tanpa perlu pengisian ulang. Teknologi ini bertujuan mengubah radiasi nuklir menjadi energi listrik dalam jumlah besar melalui metode radiovoltaik, dengan fokus pada penggunaan militer di medan operasi, daerah terpencil, dan misi eksplorasi luar angkasa.
Program Rads to Watts
Dengan program Rads to Watts, inisiatif ini bertujuan mengatasi keterbatasan baterai konvensional yang sering kali gagal dalam menyediakan daya terus-menerus di situasi lapangan yang tidak memiliki akses ke sumber listrik. DARPA menjelaskan bahwa baterai nuklir baru ini akan memiliki kepadatan energi lebih dari 10 watt per kilogram (W/kg), hampir empat kali lipat dari sistem radioisotop yang digunakan pada rover Perseverance dan Curiosity di Mars, yang menghasilkan sekitar 2,6 W/kg.
Perusahaan teknologi energi asal Amerika Serikat, Avalanche Energy, telah memperoleh kontrak senilai US$5,2 juta (sekitar RM20,96 juta) untuk mengembangkan baterai solid-state yang mampu mengubah partikel alfa menjadi listrik. Teknologi ini, yang dikenal sebagai alfavoltaik, berpotensi mengubah cara penyediaan energi dalam operasi militer yang intensif.
Meskipun partikel alfa dianggap lebih berbahaya bagi manusia jika terpapar langsung, para ahli menyebutkan bahwa jenis radiasi ini lebih mudah diblokir oleh perisai fisik dibanding bentuk radiasi lainnya. Hal ini menjadikan alfavoltaik cocok untuk aplikasi yang membutuhkan ruang kompak dan perlindungan tinggi.