Key Strategy: Kementan Pastikan Pengawalan Hilirisasi Ayam Sulawesi Selatan, Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Kementan Pastikan Pengawalan Hilirisasi Ayam Sulawesi Selatan, Dukung Program Makan Bergizi Gratis
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengawasi secara ketat pengembangan hilirisasi ayam di Sulawesi Selatan. Tujuan utamanya adalah memperkuat distribusi protein hewani nasional dan mendukung keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diharapkan mampu memberikan akses yang lebih merata terhadap bahan makanan bergizi di seluruh wilayah Indonesia.
Kolaborasi Penting
Program hilirisasi ayam di daerah ini melibatkan kerja sama strategis antara BUMN pangan ID FOOD dan PT Ugi Agri Harapan Indonesia. Kesepakatan tersebut ditandatangani di Jakarta pada hari Sabtu (11/4), menggambarkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem perunggasan yang terpadu. Inisiatif ini dirancang untuk menangani kenaikan permintaan daging ayam dan telur, serta menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
“Pembangunan ekosistem ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari produksi hingga pemasaran, agar sistem berjalan efisien dan berkelanjutan,” ujar Agung Suganda.
Penguatan Rantai Pasok
Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menegaskan bahwa kerja sama ini bertujuan memastikan hasil produksi bisa terserap secara optimal. Penyerapan hasil peternakan menjadi faktor kritis dalam memenuhi kebutuhan program MBG yang akan datang. Dengan adanya jaminan ini, pendapatan peternak diharapkan tetap stabil, serta mengurangi ketimpangan distribusi di berbagai wilayah.
Agung Suganda menekankan bahwa keberhasilan program bergantung pada implementasi yang paralel dan terkoordinasi di lapangan. Selain penandatanganan MoU, tindakan nyata harus segera dijalankan untuk mewujudkan tujuan keberlanjutan dan pemerataan. Sinergi antara Kementan, BUMN, serta pelaku usaha lokal menjadi esensial untuk mendorong pertumbuhan ekosistem peternakan nasional.
Langkah Menuju Kesejahteraan Peternak
Kementan menggarisbawahi bahwa ekosistem peternakan yang terintegrasi tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mencakup aspek penyerapan hasil, keterlibatan peternak, dan dampak sosial. Hal ini penting karena sebagian besar produksi ayam nasional masih berpusat di Pulau Jawa, menyebabkan ketidakseimbangan harga dan pasokan di daerah lain. Dengan penguatan skema offtake, investasi di sektor unggas akan lebih mudah berjalan, sehingga mendorong ketahanan pangan nasional.
“Keterlibatan peternak lokal adalah bagian krusial dari sistem ini. Mereka akan mendapat kepastian pasar dan bantuan dalam proses produksi,” tutur Andi Damisnur, Direktur PT Ugi Agri Harapan Indonesia.
Program ini juga bertujuan untuk meluaskan cakupan ke berbagai daerah, tidak hanya terbatas di Bone, Sulawesi Selatan. Targetnya adalah menyasar seluruh wilayah provinsi tersebut, serta memastikan keberlanjutan pertumbuhan usaha pertanian unggas secara nasional. Dengan dukungan sinergi yang kuat, keberhasilan pemerataan pasokan protein hewani dan peningkatan kesejahteraan peternak akan tercapai secara optimal.