Key Strategy: Rupiah Masih Bertengger di level Rp 17.000, Ini Proyeksi Pekan Depan
Rupiah Masih Bertengger di Level Rp 17.000, Proyeksi Pekan Depan Diperkirakan
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, selama akhir pekan ini, rupiah berfluktuasi dalam rentang Rp 17.040 hingga Rp 17.200. Pasar valuta asing tetap memperlihatkan ketidakstabilan, dengan rupiah diperkirakan ditutup melemah pada Senin (13/4) di kisaran Rp 17.110 hingga Rp 17.160 per dolar AS.
“Untuk perdagangan Senin depan, rupiah mengalami pergerakan fluktuatif namun berakhir pada level melemah, yaitu antara Rp 17.110 hingga Rp 17.160,” jelas Ibrahim Assuaibi dalam wawancara dengan Liputan6.com, Sabtu (11/4/2026).
Pada Jumat (10/4), rupiah ditutup mengalami penurunan 14 poin ke level Rp 17.104 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.092. Pelemahan tersebut sempat lebih dalam, menyentuh penurunan hingga 30 poin, sebelum akhirnya sedikit membaik menjelang penutupan pasar.
“Rupiah ditutup melemah 14 poin pada Jumat (10/4), dengan penurunan sebelumnya hingga 30 poin ke Rp 17.104, dari Rp 17.092 sebelumnya,” tambahnya.
Ibrahim menekankan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat tergantung pada dinamika global. Faktor utama yang memengaruhi sentimen investor meliputi isu geopolitik dan kebijakan ekonomi negara-negara maju. Khususnya, ketidakstabilan di Timur Tengah menjadi penekan terhadap nilai tukar rupiah.
“Situasi geopolitik Timur Tengah masih menjadi beban utama, meskipun terdapat gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur pelayaran energi masih rendah, kurang dari 10% dari kapasitas normal, karena Teheran tetap mengendalikan wilayah perairannya,” kata Ibrahim.
Kebijakan moneter AS juga menjadi sorotan. Pasar menunggu data inflasi konsumen Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat (10/4), sebagai indikator utama keputusan Federal Reserve. Ekonom memprediksi kenaikan inflasi, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipicu oleh konflik Timur Tengah.
“Pasar saat ini memantau data CPI AS yang penting. Kenaikan inflasi diperkirakan terjadi, terutama akibat lonjakan harga energi di tengah ketegangan geopolitik,” tutur Ibrahim.
Menurut proyeksi, rupiah berpotensi menguat dalam rentang Rp 16.750 hingga Rp 16.900. Namun, pada perdagangan besok, rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dengan penutupan melemah antara Rp 16.720 hingga Rp 16.760. Saat ini, nilai tukar rupiah tercatat di Rp 16.960 per dolar AS, setelah melemah 60 poin.
Dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, Bank Indonesia (BI) menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama. Selama sesi perdagangan, rupiah sempat melorot hingga 75 poin, lalu sedikit memperbaiki penurunan sebelum penutupan.