Meeting Results: Saat Ribuan Jenazah pun Ikut ‘Menderita’ di Gaza Akibat Kekejaman Israel

Saat Ribuan Jenazah pun Ikut ‘Menderita’ di Gaza Akibat Kekejaman Israel

Sekitar 10.000 warga Palestina dikabarkan belum ditemukan hingga saat ini, dengan kemungkinan besar berada di bawah reruntuhan bangunan sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Dua bulan setelah gencatan senjata internasional ditandatangani antara Israel dan Hamas, keluarga-keluarga korban masih mengalami kesulitan untuk menguburkan kerabat yang gugur. Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa angka kematian mencapai lebih dari 72.317 warga Palestina, sementara jumlah korban luka mencapai minimal 172.158 orang. Namun, proses evakuasi jenazah yang diharapkan dari kesepakatan tersebut belum tercapai secara signifikan.

Kisah Tragedi di Bureij

Di tengah kamp pengungsi Bureij, Abu Mohammed, seorang ayah, berhasil selamat setelah ditarik dari reruntuhan rumahnya. Tapi, empat anaknya tidak. Ia memilih tinggal di samping puing-puing rumah, tempat jasad anak-anaknya diyakini masih terjebak. Abu Mohammed menyebutkan bahwa hanya istri, ibu, dan satu anak yang berhasil dikuburkan, sementara anggota keluarga lainnya masih tertimbun beton. “Saya mencoba selama tiga tahun, tapi lempengan beton ini terlalu besar. Bahkan dengan ekskavator, saya tidak bisa mengangkatnya,” katanya.

“Saya sudah berusaha selama tiga tahun untuk menyelamatkan anak-anak saya, tetapi ini adalah lempengan beton yang sangat besar. Tidak mungkin saya bisa melakukan ini, bahkan dengan ekskavator. Ini membutuhkan alat berat,”

PBB mencatat bahwa serangan Israel telah meninggalkan lebih dari 61 juta ton puing di wilayah Gaza yang hancur. Reruntuhan mengubur seluruh komunitas, menyulitkan proses pencarian jenazah. Di satu blok apartemen di Bureij, setidaknya 50 jasad masih terperangkap sejak Oktober 2023. Meski gencatan senjata berlaku, serangan militer Israel terus berlangsung, membuat kondisi di lapangan hampir tak berubah.

Pasukan Israel dilaporkan menembak dan membunuh seorang siswi muda di Beit Lahiya, Gaza utara, pada Kamis lalu. Menurut pejabat kesehatan dan pendidikan setempat, insiden tersebut terjadi saat korban sedang mengikuti kelas di tenda. Mahmoud Basal, juru bicara pertahanan sipil Gaza, mengungkapkan bahwa hanya alat-alat terbatas yang diizinkan masuk ke Gaza, termasuk komite Mesir dan tim Bulan Sabit Merah. “Tidak ada yang masuk ke Gaza kecuali peralatan terbatas yang dibawa untuk menyelamatkan sandera Israel,” katanya.

“Setelah jenazah-jenazah itu ditemukan, kasusnya ditutup,”

Sementara itu, Fatima menggambarkan situasi puing dan jenazah yang menggenang. “Mayat berserakan, tulang belulang, tas-tas berhamburan… mereka meratakan kuburan, membuang sisa-sisa jenazah seolah-olah itu bukan apa-apa,” katanya. Kementerian Kesehatan Gaza meminta penjelasan kepada Israel terkait identitas mayat yang dikirimkan dalam truk. Dengan jumlah korban tewas yang terus meningkat, proses evakuasi jenazah tetap tertunda. Kondisi di Jalur Gaza juga menyebutkan bahwa Israel masih menduduki lebih dari separuh wilayah, dengan sebagian besar bangunan dihancurkan dan warga dipaksa mengungsi.

Dua bulan setelah kesepakatan gencatan senjata, hanya 759 jenazah yang berhasil ditemukan. Sekitar 10.000 jasad dikabarkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang dibombardir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut bahwa puing-puing menjadi penghalang utama bagi keluarga korban yang menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka. Penutupan jalur penyeberangan diperkirakan memperparah tekanan diplomatik terhadap Israel.

Selama hampir setahun, perang antara Israel dan Hamas berlangsung ganas. Angka korban tewas warga Palestina di Gaza hingga kini mencapai 40.000 orang. Meski ada upaya dari Badan Pertahanan Sipil Gaza dan staf medis, proses pencarian jasad tetap memakan waktu, mengingat kondisi wilayah yang masih berantakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *