New Policy: Paus Leo XIV Desak Pemimpin Dunia Pilih Perdamaian daripada Perang, Soroti Globalisasi Ketidakpedulian
Paus Leo XIV Ajak Dunia Memilih Perdamaian, Kritik Globalisasi Ketidakpedulian
Dalam perayaan Minggu Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Paus Leo XIV kembali menekankan pentingnya dialog sebagai sarana utama mencapai perdamaian global. Ia menyoroti semakin meningkatnya ketegangan geopolitik internasional dan menyerukan para pemimpin dunia untuk menghindari kekerasan serta memilih jalan kesepakatan. Seruan ini terutama ditujukan kepada mereka yang memiliki senjata, meminta mereka meletakkan senjata secara segera.
Kekhawatiran tentang Globalisasi Ketidakpedulian
Paus Leo XIV menyoroti fenomena “globalisasi ketidakpedulian” yang semakin mengakar. Menurutnya, dunia kini terbiasa dengan kekerasan dan kehancuran akibat perang, hingga masyarakat kehilangan empati terhadap penderitaan ribuan orang. Ia mengingatkan bahwa keindahan kemanusiaan bisa terancam jika manusia terus mengacuhkan konflik yang mengorbankan kehidupan.
“Yesus tidak mendengar doa orang-orang yang memulai perang,” tegas Paus Leo XIV, mengutip pesan mendiang Paus Fransiskus. Pernyataan ini menjadi penekanan konsisten terhadap pihak-pihak yang memicu konflik, terutama dalam eskalasi terbaru di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Perdamaian Sejati: Kasih sebagai Fondasi
Paus Leo XIV menjelaskan bahwa perdamaian yang dicita-citakan bukanlah hasil paksaan atau kekerasan, melainkan lahir dari dialog yang tulus dan saling pengertian. Tujuannya adalah merangkul pihak lain, bukan mendominasi dengan kekuatan. Ia menegaskan bahwa kasih Kristus adalah fondasi untuk membangun masyarakat yang harmonis. Perdamaian sejati, menurutnya, juga mencakup kedamaian batin yang mampu menyentuh hati setiap individu.
Inisiatif Doa Bersama untuk Kedamaian
Menyikapi kondisi dunia yang kacau, Paus Leo XIV mengumumkan inisiatif penting: doa bersama pada 11 April mendatang di Basilika Santo Petrus. Acara ini diharapkan menyatukan umat beriman dalam memohon kedamaian bagi dunia yang penuh konflik. Ia juga mengajak masyarakat untuk membiarkan diri diubah oleh kasih Kristus, yang menciptakan, menghasilkan, mengampuni, dan menebus dosa.
Dalam pidatonya, Paus mengingatkan bahwa perang bukan hanya merugikan jumlah korban jiwa, tetapi juga menimbulkan kebencian mendalam dan perpecahan sosial. Dampak ekonomi dan kemanusiaan dari konflik bersenjata dinilai sangat serius. Ia menegaskan bahwa umat manusia tidak bisa terus acuh tak acuh dan menyerah pada kejahatan.
Gereja Katolik, menurut Kardinal Ignatius Suharyo, memprioritaskan perdamaian dunia. Hal ini sejalan dengan visi Paus Leo XIV, yang telah aktif menyerukan pentingnya dialog dan kepedulian. Dengan menekankan kasih, ia mengajak dunia untuk meraih kemenangan tanpa kekerasan, seperti Yesus yang menang atas kematian.