Special Plan: D-8 Aktif dalam Mediasi Konflik Iran, Indonesia Prioritaskan Ekonomi Halal

D-8 Aktif dalam Mediasi Konflik Iran, Indonesia Prioritaskan Ekonomi Halal

Sebagai organisasi kerja sama ekonomi, D-8 yang diwakili oleh Pakistan, Turki, dan Mesir, turut serta dalam upaya mediasi konflik di Timur Tengah. Mereka berperan aktif untuk mencegah pemanasan ketegangan antara Iran dan pihak lain. Sementara itu, Indonesia tetap menjadi ketua D-8 selama periode 2026–2027, dengan tema khusus ‘Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama.’

Ketuaan Indonesia dalam forum D-8 ditujukan untuk menguatkan kemandirian ekonomi negara-negara berkembang dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan global. Lima fokus utama yang diusung mencakup peningkatan perdagangan, pengembangan ekonomi halal, serta inisiatif-inisiatif seperti ekonomi hijau, koneksi digital, dan reformasi organisasi. Upaya ini dirancang untuk menghadapi tantangan internasional dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di wilayah anggota.

Sebagai sekretaris jenderal, Duta Besar Sohail Mahmood menegaskan bahwa diplomasi rahasia telah berjalan beberapa minggu terakhir. Ia menyatakan, langkah tersebut membuka ruang penting untuk menghindari skenario yang lebih buruk. Pada masa keketuaan Indonesia, pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang diadakan di Pakistan menjadi sorotan utama, dengan harapan menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan.

“Diplomasi di balik layar selama beberapa minggu terakhir telah membuka peluang penting. Peluang ini diharapkan dapat menjauhkan kawasan dari ambang kehancuran,” kata Mahmood.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 yang awalnya dijadwalkan April ditunda, namun Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan agenda tetap berjalan. Juru bicara Kemlu, Vahd Nabyl A. Mulachela, menjelaskan bahwa penundaan dilakukan untuk memperoleh waktu yang lebih tepat, dengan koordinasi terus dilakukan dengan pihak D-8 dan negara-negara anggota.

Presiden Prabowo Subianto mendapatkan dukungan luas dari negara-negara Timur Tengah dan komunitas Islam. Dukungan tersebut terus mendukung inisiatif mediasi konflik antara AS dan Iran, berupaya menciptakan kondisi perdamaian di kawasan. Prabowo ditunjuk sebagai mediator, menekankan pentingnya diplomasi untuk meredam ketegangan.

Keterlibatan D-8 dalam konflik Iran menunjukkan komitmen terhadap stabilitas regional dan global. Risiko terhadap pasar energi internasional serta ekonomi yang bergantung pada pasokan minyak Teluk tetap menjadi perhatian utama. Meski begitu, peluang terobosan dalam mediasi dianggap sangat krusial, sehingga semua pihak diharapkan bersikap serius dan bertanggung jawab.

Para ahli menyoroti peran strategis D-8 dalam menggambarkan suara kolektif dari Global Selatan. Dengan kemampuan ini, organisasi bisa meningkatkan pengaruh di panggung internasional. Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi menekankan perlunya kerja sama lebih erat antaranggota D-8 untuk memperkuat dampak mediasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *