Special Plan: Kisah Harapan dan Ketangguhan: Pemulihan Aceh Pasca Bencana Banjir Menjelang Idul Fitri
Kisah Harapan dan Ketangguhan: Pemulihan Aceh Pasca Bencana Banjir Menjelang Idul Fitri
Dalam empat bulan setelah bencana banjir menghancurkan Aceh, tim ANTARA memotret semangat pemulihan masyarakat yang terus berlangsung. Perayaan Idul Fitri tahun ini terasa spesial, mengingat keberhasilan mereka mengatasi tantangan pasca musibah. Dari bangunan rumah sakit hingga cerita kehidupan warga di daerah terpencil, harapan tetap terang meski di tengah ketidaknyamanan.
Tim Bangkit Sumatera ANTARA berangkat dari Jakarta pada 15 Maret 2026, lima hari sebelum hari raya. Mereka menyusuri daerah terdampak parah di Aceh Tamiang dan Aceh Timur untuk merekam perubahan dan kekuatan masyarakat. Lokasi utama yang dikunjungi meliputi RSUD Muda Sedia, Desa Sekumur, serta Dusun Rantau Panjang Rubek di Desa Sijudo. Suasana Lebaran di sana menunjukkan bagaimana ketangguhan mengubah situasi yang sulit.
Ketangguhan di RSUD Muda Sedia
Rumah sakit di Aceh Tamiang, RSUD Muda Sedia, sebelumnya menjadi sorotan media karena kondisi terparah. Pasien dan tenaga medis sempat bertahan di lantai dua saat lantai dasar tergenang air. Kini, lingkungan rumah sakit telah kembali bersih, dan operasional medis berjalan normal. Beberapa bagian gedung diperbaiki dan dicat ulang, menjadi simbol kebangkitan infrastruktur kritis.
Tim ANTARA mengumpulkan kisah dari para warga dan pihak terlibat. Progres pemulihan di sini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun kembali, meski belum sepenuhnya tuntas.
Kisah Inspiratif dari Desa Sekumur
Di Desa Sekumur, tim menghadapi medan yang lebih berat. Kayu gelondongan sisa banjir menghiasi hamparan tanah, menjelma sebagai penghalang alami. Untuk mencapai desa, mereka menggunakan rakit sederhana, alat transportasi utama bagi warga. Salah satu anggota, Bang Aloy, bahkan kesulitan mengangkat kayu berukuran besar.
Di tengah kondisi itu, Kakek Mukhtar Sulaiman, 65 tahun, menunjukkan keuletan luar biasa. Ia memanfaatkan kayu besar untuk membuat sampan, yang kemudian diberikan sebagai bantuan bagi masyarakat. “Ini saya gunakan sebagai sedekah, karena mereka cukup banyak menolong kami,” ujarnya sambil memegang kapak.
Di sisi lain, Nursiah melihat suaminya membangun rumah barunya dari bahan-bahan sisa banjir. Ia berharap bangunan sederhana segera selesai sebelum Lebaran, agar anak dan cucunya bisa berkumpul. “Biarpun makanannya sederhana, yang penting kita bisa berkumpul,” harapnya.
Keluarga Berbagi di Dusun Rantau Panjang Rubek
Di Dusun Rantau Panjang Rubek, tim ANTARA menghabiskan tiga hari dua malam, termasuk merayakan Lebaran bersama warga. Dusun ini hanya memiliki satu rumah yang masih tegak, sementara 46 kepala keluarga lainnya terus berjuang membangun kembali. Kebersamaan yang terjalin membuat suasana perayaan terasa hangat.
Masyarakat sini menghidupkan tradisi lokal dengan membuat timpan, kudapan khas Lebaran dari labu yang diisi pisang atau kelapa. Malam takbiran diadakan dengan obor-obor dan pengeras suara sederhana. Warga dan tim berjalan berkeliling kampung, melantunkan takbir bersama. “Ini momen yang luar biasa, meski kita masih berjuang,” kata salah seorang warga.
Perjalanan tim ANTARA menjadi bukti bahwa Aceh tak hanya melalui masa sulit, tapi juga membangun semangat baru. Di setiap sudut desa, harapan mengalir bersama usaha ketangguhan masyarakat. Idul Fitri tahun ini, bagi mereka, bukan sekadar hari raya, tapi juga tanda perjuangan yang berkelanjutan.