Special Plan: Mahasiswa Unri Dorong Pengelolaan Perikanan Digital di Agam, Tingkatkan Produktivitas dan Pemasaran
Mahasiswa Unri Dorong Pengelolaan Perikanan Digital di Agam, Tingkatkan Produktivitas dan Pemasaran
Mahasiswa Universitas Riau (Unri) berhasil menerapkan inovasi pengelolaan perikanan digital di Nagari Koto Kaciak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan rantai pasok. Program ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat setempat, yang selama ini menghadapi tantangan dalam produksi dan distribusi hasil perikanan.
Sistem BPSMT-DIGIFISH: Solusi Teknologi untuk Budidaya Mikro
Model BPSMT-DIGIFISH, yang dikembangkan oleh Rizki Oktavian—Ketua Kelompok dan Dosen Asisten Ahli Jurusan Ilmu Kelautan Unri—menjadi inti dari inisiatif ini. Sistem ini menggabungkan teknologi digital dengan pendekatan adaptif, dirancang untuk memenuhi kebutuhan lokal dan meningkatkan kapasitas produksi. Metode Budidaya Ikan dalam Ember (Bioflok) berbasis resirkulasi menjadi salah satu komponen kunci, memungkinkan budidaya di lahan sempit dengan hasil yang konsisten.
Rizki Oktavian menjelaskan bahwa masalah klasik di wilayah tersebut adalah rendahnya produktivitas perikanan dan rantai pasok yang belum terintegrasi. Masyarakat selama ini cenderung menggunakan metode konvensional yang rentan terhadap kegagalan, terutama saat terjadi bencana alam. Oleh karena itu, inovasi digital ini menjadi solusi adaptif yang sangat dibutuhkan.
Sistem BPSMT-DIGIFISH memiliki keunggulan portabilitas, memudahkan penggeseran wadah budidaya dalam kondisi darurat. Pendekatan ini diharapkan membawa perubahan positif, mengarah pada sistem produksi yang lebih modern dan berkelanjutan. Selain itu, program ini juga melibatkan 50 mahasiswa dengan alokasi 160 jam kerja efektif untuk berbagai aspek, termasuk pemasaran dan manajemen usaha.
Transformasi Hasil Perikanan Melalui Kolaborasi UMKM
Dalam upaya meningkatkan daya saing, mahasiswa Unri bekerja sama dengan UMKM lokal untuk mengolah hasil perikanan menjadi produk siap saji. Contoh nyata dari inisiatif ini adalah “LEMBUKU,” lele bumbu kuning yang sebelumnya hanya dijual mentah. Dengan kemasan menarik dan legalitas usaha yang jelas, produk ini memberikan nilai ekonomi lebih tinggi dan memperluas pasar.
Pemasaran digital menjadi pilar utama dalam strategi ini, membuka akses ke pasar yang lebih luas. Pendekatan ini secara signifikan meningkatkan peluang pendapatan masyarakat dibandingkan sistem tradisional. Digitalisasi juga memperkuat ketahanan pangan lokal, serta mendorong adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang berubah.
Pendekatan PAR: Masyarakat sebagai Subjek Perubahan
Program pemberdayaan ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), memastikan masyarakat terlibat langsung sebagai subjek perubahan. Mereka diberikan pelatihan menyeluruh, mulai dari pembuatan alat budidaya hingga pengelolaan produksi secara efisien. Selain itu, masyarakat juga dilatih mengoperasikan teknologi digital untuk pemasaran mandiri, membantu menjaga keberlanjutan usaha.
Integrasi dengan sektor pariwisata melalui kelompok sadar wisata tambah menawarkan peluang baru, memperkaya ekosistem ekonomi lokal. Dengan memadukan inovasi teknologi dan partisipasi aktif masyarakat, program ini menunjukkan potensi besar dalam pengembangan perikanan olahan dan peningkatan kesejahteraan bersama.