Special Plan: Yayasan Garizmu Jember Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Terhadap Anak Autis
Yayasan Garizmu Jember Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Terhadap Anak Autis
Sebuah lembaga berbasis komunitas di Jember, Jawa Timur, mengambil peran aktif dalam mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusi bagi anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Melalui berbagai kegiatan, mereka berupaya mengubah persepsi negatif yang masih melekat pada penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD).
“Jumlah anak autis di Jember cukup banyak, sehingga kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan,” kata Rizma Endah Susanti, ketua Yayasan Garizmu.
Dalam upaya ini, Yayasan Garizmu menyelenggarakan seminar sebagai media edukasi. Tujuan utamanya adalah meningkatkan pemahaman, penerimaan, serta dukungan terhadap penyandang ASD. Kegiatan tersebut juga bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif. Saat ini, lembaga tersebut melayani sekitar 400 anak autis, dari jumlah itu, 150 di antaranya terus berpartisipasi secara konsisten dalam program terapi.
Stigma negatif dan perundungan sering kali menghambat perkembangan anak-anak autis di lingkungan sekolah. Situasi ini juga membuat orang tua merasa cemas saat membawa anak mereka ke ruang publik. Rizma berharap kondisi ini dapat diatasi, agar anak dan keluarganya dapat hidup lebih layak.
Peran Orang Tua dan Pendidikan Inklusif
Konsultan terapis dan dosen dari Politeknik Kesehatan Surakarta, Tri Budi Santoso, menekankan bahwa penerimaan orang tua menjadi fondasi utama dalam membimbing tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, orang tua harus memahami kebutuhan anak secara menyeluruh sebelum memilih sekolah atau tempat terapi yang sesuai.
Selain itu, orang tua juga perlu menjaga keseimbangan hidup pribadi. Menurut Tri Budi, pengembangan keterampilan anak-anak dengan ASD adalah kunci untuk mewujudkan kemandirian. Herwindo Wicaksono, seorang orang tua anak autis, menyampaikan harapan bahwa masyarakat Jember dapat menerima anak-anak dengan kondisi ini.
Dalam konteks nasional, hambatan sosial masih menjadi tantangan utama. Anggapan bahwa autisme adalah penyakit yang harus disembuhkan masih umum. Memahami kondisi ini secara benar adalah langkah penting untuk membangun masyarakat yang lebih menyadari dan mendukung.
Momen Global untuk Kesadaran Autism
Setiap 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia, inisiatif global yang bertujuan memperkuat kesadaran dan menghilangkan stigma terhadap penyandang ASD. Momen ini dianggap penting untuk refleksi serta tindakan nyata.
Marcella Zalianty, Duta Rumah Autis, memperkuat kegiatan skrining jantung anak difabel sebagai upaya deteksi dini. Kegiatan ini diperlukan karena anak-anak dengan keterbatasan sering kali kesulitan menyampaikan keluhan kesehatan mereka.
Dukungan komprehensif dari pemerintah, masyarakat, serta keluarga diperlukan agar penyandang autisme memiliki akses yang sama. Pendidikan inklusif, layanan kesehatan responsif, serta ruang publik ramah disabilitas adalah aspek kritis yang harus terpenuhi. Ra