BMKG Jatim lakukan monitoring terhadap indikasi kemunculan El Nino
BMKG Jatim Pantau Tanda-Tanda Munculnya Fenomena El Nino
Dalam upaya memprediksi kondisi iklim mendatang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) tengah memantau indikasi kemunculan fenomena El Nino. Dikutip dari pernyataan Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, BMKG menyatakan bahwa kemunculan El Nino kemungkinan terjadi di tengah tahun ini dengan intensitas yang masih lemah.
“Tetapi, intensitasnya bisa diperbarui, baik naik menjadi moderat maupun kuat,” jelas Anung Suprayitno di Malang, Jawa Timur, Sabtu.
Kemunculan fenomena ini berdampak pada perpanjangan durasi musim kemarau. Jika intensitasnya meningkat, masa kemarau bisa bertahan lebih lama. Bahkan, awal musim hujan mungkin tertunda, sehingga beberapa wilayah baru memasuki periode hujan pada tahun 2027.
Berdasarkan data yang diunggah BMKG, masa kemarau 2026 diperkirakan berlangsung secara bertahap, mulai April hingga Juni. Sementara puncak musim kemarau diprediksi terjadi di bulan Agustus.
BMKG Jatim juga memberikan saran agar setiap daerah mengoptimalkan sistem pengelolaan sumber daya air serta infrastruktur irigasi. Pihaknya menekankan pentingnya persiapan awal untuk menghadapi dampak yang mungkin terjadi.
“El Nino diperkirakan muncul sekitar Juni hingga Juli 2026. Intensitasnya yang meningkat bisa memicu kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” tambah Prakirawan BMKG, Linda Fitrotul.
Dalam koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah kabupaten dan kota, BMKG menyiapkan langkah mitigasi dini. Fokusnya terutama pada kebutuhan air untuk sektor pertanian. “Kami menyampaikan informasi perubahan cuaca dan iklim agar daerah dapat mengambil tindakan di lapangan,” ujar Linda.