Cegak konflik komodo-warga – BKSDA pasang 12 kamera di Manggarai Timur

Cegah Konflik Komodo-Warga, BKSDA Pasang 12 Kamera di Manggarai Timur

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menginstal 12 kamera jebak di Kelurahan Poto, Kabupaten Manggarai Timur, untuk mengamati keberadaan dan aktivitas komodo. Tujuan utama dari penempatan alat ini, menurut Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi, adalah menghindari terulangnya konflik antara satwa langka tersebut dengan masyarakat setempat.

Dalam wawancara di Kupang, Rabu, Adhi menjelaskan bahwa kamera jebak ditempatkan untuk memantau pergerakan komodo secara real-time. Ia juga menyebutkan bahwa warga Dusun Parasai, Kelurahan Pota, pernah melaporkan adanya komodo yang mencuri ternak dengan ukuran sekitar 1,7 meter pada 31 Maret 2026 lalu.

“Jika menemukan satwa liar di sekitar permukiman, segera laporkan kepada petugas agar penanganannya sesuai prosedur,” ujarnya.

Selain kamera jebak, pihak BKSDA juga menambahkan kandang perangkap di lokasi yang sama untuk meminimalkan risiko komodo masuk ke area warga. Adhi menegaskan bahwa komodo merupakan satwa yang dilindungi, sehingga keberadaannya harus dijaga bersama oleh seluruh masyarakat.

Komodo, kata Adhi, tidak hanya terdapat di Pulau Rinca atau Pulau Komodo dalam kawasan Taman Nasional (TN) Komodo. Satwa ini juga ditemukan di wilayah hutan Pulau Flores, termasuk Kabupaten Manggarai Timur. Selain itu, komodo juga hadir di Pulau Longos serta Pulau Ontoloe.

Karena itu, pemantauan terus dilakukan agar warga tidak terkena gigitan komodo, yang menjadi kekhawatiran utama. BKSDA NTT juga mengingatkan bahwa segala bentuk penangkapan, kepemilikan, atau perdagangan satwa dilindungi bisa mengakibatkan sanksi hukum sesuai peraturan yang berlaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *