Key Strategy: Periset BRIN ungkap metode pulihkan DAS untuk kesejahteraan rakyat
Profesor BRIN Jelaskan Pendekatan untuk Memulihkan DAS dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Jakarta – Profesor Riset Ekologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hunggul Yudono Setio Hadinugroho, mengungkapkan berbagai strategi yang dapat digunakan untuk mengembalikan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi lingkungan yang regeneratif. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya membantu ekosistem, tetapi juga memberikan dampak positif pada ekonomi masyarakat. “Dengan metode konservasi tanah dan air, erosi bisa dikurangi hingga ratusan ton per hektare setiap tahun di wilayah DAS pertanian,” jelasnya.
Metode yang Membawa Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Menurut Hunggul, teknik pelestarian sumber daya air dan tanah mampu mengurangi kerusakan lingkungan sekaligus membantu petani menghemat biaya produksi dan menjaga kesuburan lahan. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pendekatan vegetatif, seperti pengembangan tanaman berpotensi ekonomi tinggi, yang berdampak pada penurunan degradasi lahan dan peningkatan pendapatan masyarakat. “Konservasi tidak harus mengorbankan ekonomi, justru bisa diintegrasikan secara efektif,” tambahnya.
“Hasil ini menunjukkan bahwa konservasi tidak harus mengorbankan ekonomi, justru dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Inovasi Teknologi untuk Mendukung Pengelolaan DAS
Metode lain yang disebutkan oleh Hunggul melibatkan penggunaan agroforestri dan manajemen lahan kering. Kedua pendekatan ini diklaim dapat menurunkan erosi hingga 55 persen, meningkatkan penyerapan air, serta menyediakan sumber pangan dan energi alternatif. Selain itu, ia juga membahas pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang memberikan manfaat ganda, seperti menyuplai energi bersih untuk desa, mendorong aktivitas ekonomi produktif, dan mendorong masyarakat untuk melindungi hutan serta sumber air.
Integrasi Kebijakan dan Partisipasi Masyarakat
Hunggul menekankan bahwa manfaat riset akan maksimal jika terintegrasi dalam kebijakan nasional. Ia memaparkan pendekatan seperti Payment for Ecosystem Services (PES), science warga, serta kolaborasi antara akademisi, pemerintah, swasta, dan masyarakat (quadruple helix) yang telah terbukti memperkuat pengelolaan DAS secara berkelanjutan. “Riset harus menjadi solusi yang praktis dan sesuai konteks, agar bisa memenuhi kebutuhan nyata di lapangan,” katanya.
Transformasi DAS sebagai Perubahan Pandangan
Dalam penjelasannya, Hunggul menyatakan bahwa transformasi DAS bukan sekadar proses teknis, tetapi juga pergeseran cara berpikir dalam mengelola lingkungan. “Dengan pendekatan integratif yang menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kearifan lokal, serta partisipasi masyarakat, pengelolaan DAS bisa menjadi fondasi ketahanan lingkungan, kesejahteraan rakyat, dan pertumbuhan berkelanjutan,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pengembangan alat monitoring hujan sederhana ATHUS dan sistem peringatan dini berbasis sensor ModATHUS untuk mengatasi banjir serta longsor. Teknologi ini, menurutnya, juga membantu menciptakan data kualitas lingkungan secara real-time melalui platform web dan aplikasi. Pendekatan regeneratif, menurut Hunggul, tidak hanya mempertahankan kondisi alam, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kualitas ekosistem serta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.